Belajar Tatap Muka Dibuka di Zona Hijau, Sekolah Wajib Terapkan Protokol Kesehatan

TATAP MUKA: Siswa mengikuti pelajaran tatap muka di SMP Nurul Fikri Lembang. Kegiatan dilakukan sebelum terjadi pandemi Covid-19. Salah satu sekolah yang mengusulkan secara resmi belajar tatap muka ke Dinas Pendidikan.

NGAMPRAH-Di era adaptasi kebiasaan baru (AKB), Pemerintah Kabupaten Bandung Barat berencana akan membuka kembali sekolah dengan metode belajar secara tatap muka untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Rencananya, pembukaan sekolah ini akan dilakukan di zona hijau dan kuning yang memiliki penyebaran Covid-19 relatif rendah.

Kepala Bidang SMP pada Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat (KBB), Dadang Sapardan mengatakan rencana pembukaan itu saat ini sedang dalam tahap verifikasi sekolah yang akan membuka belajar tatap muka. Bahkan, sudah ada dua sekolah yang mengajukan secara resmi. “Pada pelaksanaan sekolah tatap muka ini, pihak sekolah wajib menerapkan protokol kesehatan sesuai panduan dari Surat Keputusan Bersam (SKB) 4 Menteri,” kata Dadang kepada Pasundan Ekspres, Kamis (3/9).

Dia menjelaskan dalam SKB 4 Menteri tersebut, satu ruangan sekolah hanya bisa di isi tidak lebih dari 18 siswa. Selain itu, sekolah harus menerapkan protokol kesehatan siswa mulai dari pemberangkatan hingga pulang dari sekolah. “Untuk teknis pelaksanaannya, itu diserahkan kepada kebijakan sekolah masing-masing yang akan menerapkan belajar tatap muka. Karena mereka yang lebih mengetahui teknis di lapangan,” ungkapnya.

Adapun alasan dibukanya kembali sekolah dengan belajar tatap muka tak lain lantaran banyak permintaan dari orang tua siswa. Seperti survei yang dilakukan oleh dua sekolah yakni SMP Nurul Fikri Lembang dan SMPN 1 Padalarang. “Hasil survei mereka, animo dan dorongan dari orangtua siswa untuk belajar secara tatap muka cukup tinggi. Tapi jika ada orangtua siswa yang tidak mengizinkan anaknya belajar tatap muka, maka sekolah harus memfasilitasi mereka juga,” jelasnya.

Selama pandemi ini, lanjut dia, selain banyak sekolah yang menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring, namun banyak juga sekolah yang menerapkan pembelajaran secara luring. Rata-rata sekolah yang menerapkan luring berada di pelosok daerah yang sulit terjangkau jaringan internet, seperti di wilayah selatan KBB. “Ada juga yang luring, pertimbangannya karena akses jaringan internet, kepemilikan hp siswa. Terecuali di daerah kota sekolah berlakukan daring,” ujarnya.

Dia menyebut di KBB ada sekitar 61.000 siswa SMP di 188 sekolah negeri dan swasta. Pembelajaran secara tatap muka ditargetkan bisa setengahnya dari jumlah SMP di KBB. “Tergantung kesiapan sekolah, karena harus ada persetujuan dari orangtua siswa, surat dari unit Puskesmas terdekat.

Dan itu bisa diajukan ke Satgas Covid-19. Dan nanti mereka yang akan mengkaji itu, apakah memungkinkan atau tidak. Kami juga mengacu pada SKB 4 Menteri itu, dan tetap berkoordinasi dengan Satgas untuk menentukan sekolah mana yang sudah bisa membuka sekolah dengan belajar secara tatap muka,” pungkasnya.(sep)