Dua Janda Tua Tinggal di Rumah Bilik, Dinding Dilapisi Koran dan Rawan Ambruk

JANDA TUA: Irah (80) warga Kampung Cilangari RT 2 RW 6 Desa Ciburuy Kecamatan Padalarang,tinggal dirumah berdinding bilik yang dilapisi kertas koran dan tanpa sambungan listrik. EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES

PADALARANG-Dua orang janda tua asal Kampung Cilangari RT 2 RW 6 Desa Ciburuy Kecamatan Padalarang Kabupaten Bandung Barat (KBB), Irah (80) dan Rohati (74) harus pasrah tinggal di rumah butut dan tak layak huni.

Irah menempati rumah bilik yang ditambal dengan kertas koran dan tanpa sambungan listrik. Ironis, sebagai warga miskin, ia tidak terdaftar sebagai pemerima Program Keluarga Harapan (PKH). Walaupun mempunyai kartu pencairan Bantuan Pangan Nontunai (BPNT), Irah belum pernah menggunakannya lantaran tak tahu caranya.

Nasib yang sama dialami Rohati (74) tinggal di sebelah kandang kambing peliharaan anaknya. Walaupun rumahnya sangat tidak layak, ia lebih memilih tinggal terpisah dari anak dan menantunya karena ingin lebih mandiri dan tenang. Sama halnya dengan tetangganya itu, Rohati pun tak terdaftar sebagai penerima PKH maupun BPNT.

Rohati mengatakan, selama ini ia sering sakit-sakitan dan sempat terjatuh, apalagi dulu harus menempuh ratusan meter untuk mandi cuci kakus (MCK). Dia pasrah dengan keadaan karena sudah tak punya penghasilan untuk memperbaiki rumah. “Untungnya, sekarang sudah ada tempat MCK di dekat rumah saya yang dibangun setahun lalu oleh mahasiswa yang sedang kuliah kerja nyata (KKN) bersama warga,” kata Rohati di rumahnya, Senin (29/4).

Saat masih kuat bekerja, Rohati mengaku, dirinya masih bisa mendapat penghasilan dari menjual boboko, tapi seiring tubuhnya yang sudah renta, sekarang ia hanya mengandalkan pemberian dari anak-anaknya. “Itu pun kalau anak saya lagi punya uang,” ucap ibu dari tiga anak itu.

Adapun Irah, menempati rumah bilik yang rawan ambruk dan hanya dilapisi koran, janda tua itu ditemani oleh seorang cucu yang berkebutuhan khusus. Untuk menyambung hidup, Irah juga berjualan boboko yang diambil dari orang lain dengan harga jual Rp 15.000 per boboko, setiap boboko yang terjual ia menerima upah Rp 2.000. “Tapi saya tidak bisa setiap hari jualan karena tergantung stok barang dari pembuatnya. Setiap kali jualan, saya ambil delapan boboko, ditukar sama lima cangkir atau sekitar 1 kilogram beras, jualannya ke Bojongkoneng, Purabaya, sampai Tagogapu,” terangnya.

Sejak suaminya meninggal enam tahun lalu, Irah harus menghemat pengeluaran. Bahkan, di saat persediaan beras menipis, ia harus irit memasak nasi. Sementara salah satu anaknya yang berjualan makanan basreng di Cimahi tak tentu memberinya uang. “Berasnya enggak dihabiskan sekaligus, takut kalau besok enggak ada yang bisa dijual,” ujar Irah.

Seperti diketahui, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat gencar melakukan percepatan pemmbangun infrastruktur, salah satunnya perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu). Sampai saat ini, tercatat sebanyak 120 rutilahu yang sudah berhasil dibedah tanpa menggunakan APBD. Untuk setiap unit rutilahu mendapat bantuan sebesar Rp25 juta. Anggaran tersebut bersumber dari para donatur dan program Coorporate Social Responsiblity (CSR) perusahaan-perusahaan yang ada di KBB.

“Saya tidak bosan untuk terus mengajak kepada para donatur dan pengusaha yang punya kepedulian, untuk menyumbangkan hartanya untuk membantu masyarakat kita seperti ibu Marti ini (salah satu warga Cihampelas yang mendapat program bedah rutilahu-red),” kata Aa Umbara saat meresmikan rumah ibu Marti di Cihampelas beberapa waktu lalu.

Dia menyebut ada sekitar 24 ribu rutilahu yang harus diperbaiki. Untuk tahun ini, ditargetkan sebanyak 6 ribu unit bisa diperbaiki. “Mohon dukungannya juga dari masyarakat Bandung Barat, agar kita bisa lebih maju. Untuk yang belum mohon bersabar kita cicil satu per satu, hatur nuhun,” ucap Umbara dikutip melalui akun Instagram miliknya. (eko/sep)