Eksploitasi KBU Bisa Timbulkan Masalah

KAWASAN LINDUNG: Pengadilan Negeri Bale Bandung saat menggelar pemeriksaan setempat (PS) terhadap gugatan perwakilan kelompok (class action) warga terhadap aktivitas pembangunan di kawasan Punclut yang termasuk ke dalam Kawasan Bandung Utara (KBU). DOKUMENTASI

BANDUNG-Eksploitasi Kawasan Bandung Utara (KBU) sebagai wilayah tangkapan air bisa menimbulkan berbagai permasalahan. Salah satunya bisa berdampak pada kelangkaan air baku dan menurunnya kualitas air tanah, banjir dan sedimentasi di kawasan cekungan Bandung.

Penjabat Bupati Bandung Barat, Dadang Masoem mengatakan, saat ini sebagian pengusaha dan masyarakat masih kerap mendirikan bangunan tanpa menyadari dampak kerusakan lingkungan. Ditambah dengan kurangnya kontrol pemerintah, karena menganggap pembangunan berjalan baik-baik saja.

“Kita kebayang, tadinya aman-aman saja, tahunya ada yang melakukan itu (pembangunan). Oleh karena itu, perlu ada kontrol lebih agar lingkungan tidak rusak. Dan ini masalah perizinan untuk melakukan ini kan melalui kontrol-kontrol,” kata Dadang, Minggu (9/9).

Dia menyatakan, pihaknya telah mendapat ajakan dari pihak berwajib seperti kejaksaan dan kepolisian untuk bekerja sama mengontrol perizinan pendirian bangunan di kawasan Bandung Utara.

Dadang yang juga Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Barat mengaku, pihaknya pernah memberikan tindakan tegas dengan menyegel bangunan ilegal di KBU, yakni lokasi pembangunan apartemen The Maj Hotel di kawasan Dago serta PT DAM di Punclut pada dua tahun lalu.

“Kebetulan saya sebagai pemegang izin di provinsi, usaha kita dalam pelestarian lingkungan itu sudah luar bias. Di PT DAM, saya dan pak Dedy Mizwar (mantan Wagub Jabar) masuk ke situ, ada pembangunan, sudah memasarkan tapi belum berizin. Konsepnya resort, di belakang kantor pemasaran dibikin apartemen konsep di gunung tapi ada pantainya, di kita enggak ada proposalnya, berhenti dia,” ujarnya.

Dengan adanya tindakan tegas tersebut, terang dia, hal ini mengingatkan kepada pengembang bahwa jangan asal membangun sebelum menempuh perizinan yang benar. Malah instruksi dari pemprov, kata dia, jika pihaknya mampu membeli seluruh bangunan di Bandung Utara untuk dijadikan lahan konservasi. Namun terkendala dana sehingga upaya yang dilakukannya dengan memperketat izin pendirian bangunan.

“Para pengusaha jangan mengabaikan izin bangunan jika tidak mau disegel. Pembangunan itu harus ada keseimbangan agar kelestarian alam tetap terjaga. Supaya KBU terpelihara, saya sudah memerintahkan kepada jajaran di dinas terkait agar berupaya meningkatkan pengawasan,” jelasnya.

Seperti diketahui, alih fungsi lahan di KBU acap kali menjadi biang penyebab bencana, khususnya banjir di cekungan Bandung saat musim hujan. Kawasan strategis KBU seluas 38 ribu hektare yang masuk ke wilayah Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung dan Bandung Barat banyak yang diubah menjadi kawasan permukiman atau kompleks komersial.

Dengan maraknya eksploitasi lingkungan di KBU, tak menutup kemungkinan jika banjir yang sering menyerang Kota Bandung bisa kembali terjadi pada tahun ini jika kerusakan alam tidak segera dibenahi dari sekarang.

Sementara itu, sebagian warga Bandung Utara bersama penggiat lingkungan Jagaseke dan Matabatara mengadakan penanaman pohon dikawasan punclut Bandung Barat, sebagai upaya meminimalisir kerusakan lingkungan di Bandung Utara.

“Salah satu bentuk Perbaikan ekologi lahan adalah dengan menanam pohon. Pohon memperbaiki siklus air, menyimpan air, menyerap karbon, menghasilkan okdigen, mengurangi tingkat kebisingan, habitat dan sumber pakan binatang liar. Bahan baku obat dan pangan manusia, juga meningkatkan keindahan dan keasrian lingkungan punclut,” kata ketua Jagasekke Abdulah Bagus.

Menurutnya, dengan melakukan penanaman pohon dikawasan Punclut, sebagai upaya untuk memperbaiki tangkapan air dan menjaga kawasan agar tidak terjadi longsor dan meminimalisir potensi banjir di kota Bandung pada saat musim penghujan.
“Pohon engurangi erosi, mengurangi resiko longsor dengan akarnya yang memperkuat struktur tanah mengurangi resiko banjir dengan menambah resapan dan menyimpan kelebihan air, Areal hijau dan resapan cekungan bandung harus dijaga dan diperluas, bukan dikurangi,” kata Abdul.(eko/din)