Ekspor Sayuran di Lembang hingga ke Mancanegara

lembang
PACKING: Pekerja PT. Momenta Agrikultura tengah melakukan packing sayuran untuk diekspor ke luar negeri. EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES

LEMBANG-Kondisi lingkungan yang masih asri, iklim yang baik dan tanah yang subur menjadikan wilayah Lembang terkenal akan pariwisata dan pertaniannya.

Meskipun dalam beberapa tahun terakhir, banyak lahan pertanian yang kini berobah fungsi menjadi pemukiman warga.

Berbagai macam hasil produk pertanian dari Lembang dikirim ke berbagai wilayah di Bandung raya, Jakarta dan luar Pulau Jawa. Bahkan untuk perusahaan besar, hasil sayuran dari Lembang diekspor ke berbagai negara di kawasan asia.

Baca Juga: Penjualan Sayuran Online Naik 100 Persen

Meskipun begitu, pertanian tanpa ada inovasi seiring dengan perkembangan teknologi akan sulit bersaing di pasar global.

Pasalnya, selain dituntut untuk mampu memenuhi kebutuhan secara berkelanjutan, kualitas sayuran pun menjadi hal yang harus terjamin sesuai permintaan pasar.

Prinsip ini dipegang PT. Momenta Agrikultura, sebuah perusahaan yang berdiri sejak tahun 1998, yang berlokasi di Jl. Cisaroni Desa Cikahuripan Kecamatan Lembang, yang berhasil menghasilkan berbagai produk sayuran dengan menggunakan merk “Amazing Farm”.

Kini, produk-produknya tersebar diberbagai supermarket yang ada di wilayah Bandung Raya, Jabodetabek, Surabaya, Makasar, Sumatera dan rencananya melebarkan sayapnya ke Kalimantan.

Disamping memenuhi pasar domestik, beberapa produk juga dikirim ke Singapura, Brunai Darussalam dan Hongkong.

“Untuk saat ini ekspor sayuran ke beberapa negara masih berjalan, tapi untuk ke Hongkong dihentikan sementara karena situasi dan kondisi di sana kurang baik,” tutur Davy Rusli, Direktur PT Momenta Agrikultura, beberapa waktu lalu.

Davy mengungkapkan, untuk memenuhi berbagai kebutuhan sayuran super, diperlukan penanganan yang baik, mulai tanam hingga panen. Sehingga produk pertanian yang dihasilkan sesuai dengan standar pasar yang berlaku.

Tidak semua produk sayuran terpenuhi sendiri, lanjut Davy, perusahaannya menjalin kemitraaan dengan beberapa petani.

BACA JUGA:  Pemkab Bandung Barat Fokus Infrastruktur Jalan dan Pelayanan Publik

Mereka harus mampu menghasilkan produk yang terjamin, dari segi kualitas dan kuantitasnya.

Harus ada pembinaan untuk petani

“Petani juga diberikan pembinaan agar produk sayurannya bisa masuk kriteria. Jika belum bisa diajarkan sampai mampu dan jika sudah bisa, tinggal jalan saja,” beber Davy.

Sayuran yang akan dikirim harus melalui pemeriksaan yang ketat (Quality Control). Kalau sudah dinilai layak, lalu masuk ke dalam proses pengemasan dan pengepakan ke dalam kardus sesuai dengan jenis sayuran yang akan dikirimkan.

“Sayuran yang akan dikirimkan secara kasat mata harus sempurna. Misalkan, untuk sayuran daun tidak boleh ada busuk dan terbakar, begitu juga buncis tidak boleh ada bercak hitam dan bolong.

Sedangkan jenis zucchini tidak boleh ada gigitan serangga agar produk saat sampai tujuan tidak busuk,” urai Davy.

Berdasarkan pengalamannya, sektor pertanian terbukti yang paling bisa bertahan ditengah-tengah ketidakpastian ekonomi pada tahun 1998 yang menimpa Indonesia.

Begitu juga saat pandemi Covid-19, sektor pertanian dinilai masih stabil dan tidak terpengaruh secara signifikan.

“Memang saat ini pengiriman ke restoran dan café terhenti karena banyak yang tidak beroperasional. Namun di satu sisi, untuk permintaan di supermarket menjadi tinggi dan permintaan secara online pun meningkat pesat,” ujar Davy.(eko/sep)