Gerakan BISA Rangsang Pelaku Pariwisata

Gerakan BISA
PEMBUKAAN: Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf, saat pembukaan Kegiatan Gerakan BISA bersama Pokdarwis di Maribaya Lembang, Minggu (9/8). EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES

LEMBANG-Komisi X DPR RI dan Kementerian Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif melakukan terobosan untuk pemulihan sektor pariwisata yang terpuruk dalam beberapa bulan terakhir. Pasalnya, pariwisata merupakan salah satu sektor penyumbang devisa bagi negara.

“Sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa terbesar kedua sebesar Rp 300 trilyun bagi negara setelah kelapa sawit,” ucap Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf, saat memberikan sambutan Kegiatan Gerakan Bersih, Indah, Sehat dan Aman (Gerakan BISA), di Maribaya Natural Hotspring Resort, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (9/8).

Dede menyatakan, ketika pandemi Covid-19 sektor pariwisata tidak berdaya dan semuanya berhenti. Mengingat pariwisata tidak bisa dilakukan secara virtual karena wisatawan harus datang, bertemu dan berkumpul. “Otomatis objek wisata, restoran dan hotel tidak ada orang datang dan tidak ada transaksi ekonomi,” ujarnya.

Baca Juga: Keterlibatan Usaha Kecil Menengah Faktor Keberhasilan Pariwisata

Untuk itu perlu ada program recovery, lanjut Dede, bagi para pelaku di bidang pariwisata dan industry kreatif agar tetap memiliki semangat dan bangkit kembeli yang dimulai bulan Agustus hingga Desember 2020. Selanjutnya mempersiapkan untuk memasuki fase normal di tahun 2021 mendatang. “Program Gerakan BISA merupakan program padat karya untuk merangsang para pelaku pariwisata untuk mempersiapkan kembali, sambil menjalankan bersih-bersih di zona wisata, juga diisi dengan sosialisasi adaptasi kebiasaan baru (AKB),” jelasnya.

Pemerintah harus mendorong memaksimalkan wisatawan nusantara

Dia mengungkapkan, dalam kondisi saat ini dan dalam upaya memulihkan sektor pariwisata. Pemerintah harus mendorong memaksimalkan wisatawan nusantara.
Dede mencontohkan, wisatawan lokal yang masuk ke Jawa Barat mencapai 68 juta orang per tahunnya. Jika seorang membelanjakan minimal Rp500 ribu maka uang yang berputar di Jawa Barat dari sektor pariwisata mencapai Rp33,5 trilyun.

“Sampai tahun depan kita harus fokus memaksimalkan wisatawan nusantara dan saat ini dari informasi yang diterima, Bali sudah mulai ramai dengan kedatangan wisatawan lokal. Sedangkan untuk menerima wisatawan asing masih belum berani dan harus ekstra hati-hati dengan prosedur yang ketat,” ungkapnya.

Direktur Kelembagaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Reza Pahlevi mengatakan, untuk pemulihan pariwisata, kementerian sudah membuat standar kebersihan, kesehatan, keselamatan dan kelestarian lingkungan. Bahkan panduan untuk diaplikasikan diberbagai objek wisata, hotel dan restoran pun sudah selesai.

“Dalam panduan sudah ditetapkan standarnya bagaimana perlakuan di pintu masuk, mengatur akomodasi, home stay dan daya tarik wisata yang tujuannya untuk mencegah penyebaran Covid-19,” ucapnya.

Agar penerapannya maksimal, Reza menyebutkan, selain terus dilakukan sosialisasi juga diperlukan peranan dan dukungan pemerintah daerah dalam penerapan dan pengawasannya. “Ini tidak mudah dan perlu waktu tapi jika dilakukan secara bersama-sama dan digerakan secara luas, maka akan semakin cepat dan semakin banyak destinasi-destinasi wisata yang berstandar,” tandasnya.(eko/sep)