Kopassus Ukir Sejarah Dunia, Kibarkan Bendera Terbesar di Langit

PECAHKAN REKOR DUNIA.Komandan Jenderal Kopassus Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa menerima piagam dari Museum Rekor Indonesia (Muri) yang diserahkan oleh Awan Raharjo. EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES

BATUJAJAR-Satuan elite TNI Angkatan Darat, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) mengukir sejarah dengan mengibarkan bendera di langit yang berukuran terbesar di dunia. Rekor tersebut turut diperagakan dalam acara penutupan pendidikan Para Dasar Taruna Akmil Tingkat IV Tahun 2019 di Lapangan Udara Suparlan, Pusdiklatpassus, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (19/3).

Dalam upacara penutupan itu, sebanyak 263 Taruna Akmil melakukan Wing Day. Pemberian piagam dari Museum Rekor Indonesia (Muri) dilakukan oleh Awan Raharjo kepada Komandan Jenderal Kopassus Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa.

Mayjen Nyoman mengatakan, pengibaran bendera Merah Putih berukuran 9×6 meter oleh pasukan Kopassus menjadi rekor tingkat dunia, karena belum ada lagi pihak yang mengibarkan bendera di langit dengan ukuran yang lebih besar. Sebelumnya, rekor serupa juga dilakukan oleh Kopassus beberapa tahun lalu, dengan ukuran bendera 7×5 meter.

“Ini memang kemampuan yang tidak bisa dilaksanakan oleh prajurit biasa. Ini membutuhkan jam terbang yang cukup banyak, pengalaman, dan juga kemampuan untuk berpikir dalam situasi tegang, stres, mereka harus tetap kontrol diri dalam rangka untuk mengembangkan pengibaran bendera terbesar ini,” kata Nyoman.

Menurut dia, para prajurit Kopassus melakukan pemecahan rekor pengibaran bendera terbesar terjun bebas hanya dengan berlatih selama tiga hari. Pemecahan rekor tersebut, kata dia, juga untuk menunjukkan kepada dunia bahwa pasukan khusus di Indonesia berisikan prajurit-prajurit yang terlatih.

“Dia bukan hebat, tetapi dia terlatih. Ini pesan yang perlu kami sampaikan. Yang kedua adalah, prestasi atau karya ini kami manfaatkan juga untuk kegiatan-kegiatan nonmiliter, dalam hal ini adalah membantu bencana alam,” tuturnya.

Nyoman menjelaskan, pada saat terjadi bencana alam pasukan Kopassus turut diterjunkan untuk menyalurkan bantuan secepatnya. Pada kondisi tertentu, hal itu tidak bisa dilakukan melalui jalur darat atau laut. Bahkan, penyaluran bantuan melalui jalur udara pun seringkali mengalami kendala.

Oleh karena itu, penyaluran bantuan dilakukan dengan cara terjun bebas oleh prajurit yang terlatih. Nyoman menyontohkan saat gempa bumi terjadi di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, beberapa waktu lalu. Saat itu, prajurit Kopassus terjun dari ketinggian tertentu sambil membawa obat-obatan maupun tandem dengan dokter.

“Dia harus sesegera mungkin turun ke bawah sebagai advance team, menyiapkan sarana dan prasarana, serta menyiapkan tim di sana. Dokter juga bisa bekerja lebih cepat, sehingga korban tidak bertambah. Kami bisa minimalisir. Itulah, saya harapkan Kopassus di situasi damai bisa bermanfaat, bisa juga berperang,” katanya.

Komandan latihan pemecahan rekor, Kolonel Inf Yudha Airlangga mengatakan, rekor Muri itu dilakukan pada akhir tahun 2018 di Pakansari, Bogor, oleh tim yang berisikan 17 penerjun. Pengibaran bendera Merah putih, kata dia, dilakukan di atas ketinggian 8.000-5.000 kaki dalam waktu 8-10 detik. Setelah itu, para penerjun berpencar untuk mengembangkan payungnya masing-masing.

“Faktor cuaca sangat mempengaruhi, traffict udara juga. Terakhir, faktor skill, bagaimana menyatukan skill para penerjun dalam waktu singkat. Tidak mudah membentangkan bendera di udara. Waktu untuk membentangkan bendera itu maksimal 10 detik. Kalau lebih, penerjun berisiko saling bertabrakan, terbelit oleh bendera, atau bertabrakan saat mendarat,” katanya. (eko/sep)