Mengenal Benteng Tjikahoeripan Gebied Ikon Bandung Barat

OLAHRAGA RINGAN: Warga tengah melakukan olahraga ringan di sekitar Benteng Tjikahoeripan. EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES

Kokohnya Markas Pertahanan Militer Peninggalan Belanda

Lembang sejak dahulu telah menjadi daerah penting dan strategis, banyak bangunan peninggalan Belanda, diantaranya bangunan Observatorium bosscha yang menjadi ikon Bandung Barat terletak di Lembang. Ternyata bukan hanya itu, Belanda meninggalkan bukti sejarah lain bahwa mereka pernah menetap di daerah yang sejuk ini. Terbukti berdiri kokoh benteng pertahanan Belanda.

Laporan: EKO SETIONO, Bandung

Berdasarkan penelusuran, benteng ‘Tjikahoeripan’ merupakan pertahanan yang disiapkan untuk menghadapi Perang Dunia ke II. Sekaligus untuk menghadapi serangan tentara Jepang, yang datang ke Jawa Barat melalaui Kalijati, Ciater, Lembang dan selanjutnya menuju Bandung.

Menurut keterangan mantan veteran pejuang 1945, Abah Aseh yang sekarang tinggal di Kampung Cidepong Desa Sumur Bandung Barat Cipatat, bahwa benteng ini diperkirakan dibangun tahun 1917.

Pada tahun 1917 ini, sebagai Gubernur Jenderal pemerintahan Hindia Belanda, yaitu Graaf Van Johan Paul Limburg Stirrum yang menjabat dari tahun 1916-1920.

Pada masa pemerintahan Bupati Bandung R.A.A. Martanagara, tahun 1893 – 1918. Benteng ini terletak di atas bukit, sehingga sangat strategis untuk memantau jalan raya Lembang-Parongpong serta Stasiun Peneropongan Bintang Boschca.

Menurutnya, di atas bukit ini ditempatkan jenis senjata artileri medan atau artileri gunung, dan meriam penangkis serangan udara, serta moncong senjata mitraliur berat jenis Browning kaliber 12,7 mm yang siap memuntahkan peluru ke arah penyerang yang datang.

Bahkan, Benteng tersebut, menjadi tempat pertempuran TRI dengan tentara Belanda Mei 1946, Kawasan Benteng Di Cikahuripan Lembang. “Benteng ini selain basis pertahanan tentara Belanda terhadap serangan tentara Jepang juga sebagai basis pertahanan dalam perang kemerdekaan antara Belanda dengan TRI,” ujar Abah Aseh.

Sejak Belanda hengkang dari Lembang, benteng tersebut terbengkalai, dan tertimbun tanah serta rimbun di hutan belantara, di Blok Cisaroni Cikahuripan.

Kini, untuk menjaga kelestarian, Benteng tersebut, sekelompok masyarakat yang tergabung dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) terus melakukan pembersihan semak belukar dan membersihkan tanah yang mengubur benteng, sehingga dapat diketahui bentuk dan ukuran benteng sebenarnya.

“Dilihat kondisinya, benteng Belanda ini masih utuh, Jika melihat ciri-ciri umum benteng ini mempunyai struktur bangunan yang berbentuk segi empat, yang memperlihatkan kekokohan suatu bangunan benteng. Dengan tinggi ±10 meter, luas hingga 5.000 m2 hingga 10.000 m2, tebal dinding 1 – 1,5 meter, tebal lantai 1 – 120 meter dan mempunyai dua lantai,” papar Sigit Kamseno ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tjikahoeripan Gebied Desa Cikahuripan.

Menurutnya, Lantai pertama mempunyai 4 pintu gerbang, ruangan besar, ruangan kecil, pintu penghubung antar ruangan maupun pintu keluar benteng, ±8 anak tangga, ke latai dua, dan dua tangga darurat.

Sedangkan pada lantai dua, memiliki pintu penghubung, jendela, ruangan besar, ruangan kecil berbagai ukuran, dan ±4 anak tangga yang menghubungkan ke bagian atap benteng.
Atap benteng sendiri terbuat dari batu bata merah yang sangat kokoh dan dibuat menyerupai bukit-bukit kecil sehingga sangat ideal untuk tempat pertahanan dan sekaligus untuk mengintai lawan/musuh.

“Benteng ini dibangun bentuk memanjang dan melingkar sehingga menjadi Markas Pertahanan Militer, Kekuatan Bangunan benteng Belanda ini sangat kuat, karena rata-rata pondasi bangunanya menggunakan batu pada seluruh permukaan dindingnya,” bebernya.
Dari segi warna, bangunan berarsitektur Belanda ini memiliki warna yang simple (selalu warna putih mendominasi). “Ciri benteng Di Cikahuripan memiliki ciri khas tersendiri yang menunjukkan identitas suatu benteng,” jelasnya.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bandung Barat Rismanto, sangat Mengapresiasi kerja keras dari Pokdarwis yang mengelola peninggalan sejarah yang mengedepankan kelestariannya dan kini menjadi sumber ekonomi warga.

“Mohon terus dipertahankan dalam mempertahankan kelestarian peninggalan sejarah, Agar berkembang diharapkan dapat menjalin kerjasama yang produktif dengan berbagai pihak,” jelasnya.

DPRD akan mendorong kerjasama dengan pihak-pihak yang dapat mensuport pengembangan peninggalan sejarah tersebut. “Diharapkan terus melakukan koordinasi dengan dinas terkait, dan DPRD akan mendorong kerjasama dengan pihak-pihak yang dapat mensuport Pokdarwis untuk tetap menjaga dan melestarikan bangunan bersejarah itu,” tukasnya.(*/vry)