Pemilihan Ketua RW 12 Secara Demokratis

ANTUSIAS: Salah seorang pemilih menunjukan kertas suara pemilihan Ketua RW 12 Desa Langensari. EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES

LEMBANG-Pemilih Ketua RW 12 Desa Langensari Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat (KBB), unik dan demokratis. Pasalnya, proses pemilihan pemimpin tingkat RW ini melewati berbagai tahap layaknya Pemilu serentak yang belum lama digelar.

Jauh-jauh hari sebelum hari pemilihan, perwakilan warga terlebih dahulu membentuk kepanitian untuk menjaring calon yang maju sebagai kandidat Ketua RW serta mendata calon pemilih dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang terdata sesuai e-KTP.

Setelah calon Ketua RW ditetapkan, panitia lalu menyebar formulir atau surat undangan kepada para pemilih. Bukan hanya itu, panitia juga memberikan kesempatan kepada seluruh kandidat berkampanye untuk menyampaikan visi misi.

Di hari pemungutan, panitia mengarahkan satu persatu warga, mulai dari pendaftaran, pengambilan surat suara, pencoblosan di bilik TPS hingga pencelupan jari di tinta sebagai tanda sudah memilih. Panitia hanya menyediakan satu Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Gedung Balai Desa Langensari.

Lazimnya sebuah pemilihan untuk mencari calon pemimpin, beragam perlengkapan yang dibutuhkan seperti bilik suara, kertas suara, surat suara dan tinta juga sudah dipersiapkan di TPS. Pencoblosan surat suara pun ditutup tepat pukul 13.00 WIB, lalu dilanjutkan dengan penghitungan suara dengan disaksikan seluruh calon dan warga.

Panitia pemilihan RW, Yuyu Supriatna mengatakan, alasan menggelar pemilihan Ketua RW secara langsung dengan mencontoh cara Pemilu ini dimaksudkan agar pemimpin yang terpilih bisa mengayomi dan melayani masyarakat tingkat bawah. “Sebelumnya, Ketua RW terpilih dikukuhkan langsung masyarakat melalui desa. Tapi sekarang, kami selenggarakan pemilihan langsung dengan harapan pemimpin yang baru bisa meningkatkan kinerja dan memakmurkan masyarakat,” katanya di sela-sela pemilihan, Minggu (16/6).

Meskipun berlangsung sederhana dan apa adanya, tetapi antusias warga mendatangi TPS patut diacungi jempol. Dari 757 jiwa yang berhak mencoblos, total ada 470 jiwa yang memberikan hak suaranya untuk memilih salah satu dari tiga calon kandidat.

BACA JUGA:  Kecermatan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Diandalkan

Bukan saja kalangan orang tua yang tampak bersemangat, para kaum milenial pun terlihat antusias dalam pemilihan ini. “Mudah-mudahan, alam demokrasi seperti ini bisa menjadi percontohan untuk RW yang lain. Bukan hanya di tingkat RW, tapi juga hingga pemilihan kepala desa,” ujarnya.

Namun diakuinya, seperti pada penyelenggaraan Pemilu 2019, pemilihan Ketua RW untuk masa jabatan 3 tahun ini pun banyak diwarnai kampanye hitam (black campaign), teror kepada salah satu kandidat, hingga perusakan alat peraga kampanye. “Cara-cara kotor ternyata tidak hanya terjadi di kalangan elit, tapi juga sampai ke tingkat pemilihan RW. Kami harapkan, perselisihan antar kandidat dan tim sukses jangan sampai mengganggu ketentraman dan silaturahmi jadi renggang,” jelasnya.

Pj Kepala Desa Langensari, Asep Yusuf mengapresi upaya warga menyelenggarakan pemilihan Ketua RW secara langsung. “Alhamdulillah, proses demokrasi bisa diselenggarakan di tatanan pemerintahan bawah. Mudah-mudahan bisa dicontoh untuk RW lainnya agar terpilih pemimpin yang dikehendaki masyarakat,” beber Asep.

Lebih jauh, pemimpin yang terpilih diharapkan bisa bersinergi dengan pemerintahan di atasnya baik di tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten. “kegiatan-kegiatan yang jadi visi misi Ketua RW terpilih bisa bersanding dengan program pemerintah kabupaten dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai jargon ‘Lumpat’,” tambah Asep. (eko/sep)