Perhutani Mitigasi Pohon Rawan Tumbang

EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES RAWAN TUMBANG: Petugas Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan Lembang saat mendata pohon pinus yang tumbang dan sudah tua.

LEMBANG-Hasil pendataan Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Lembang, ada sekitar 126 pohon pinus tumbang akibat badai tropis (Angin Bibit Tropis 96 S).

Asisten Perhutani (Asper) Lembang Susanto mengungkapkan hutan yang tumbang merupakan pohon yang telah berumur tua, bahkan pohon tersebut sudah memasuki fase penebangan. “Pohon pinus yang ada di KPH Lembang rata-rata penanaman pada tahun 1962. Dulunya adalah hutan produktif hingga tahun 2003, kemudian ada rescoring kawasan hutan sehingga statusnya menjadi hutan fungsi lindung,” ujar Susanto, Kamis (10/12)

Semenatara rencana tindak lanjut hasil evaluasi dari kejadian pada tanggal (8-9/12), Perum Perhutani KPH Lembang akan mengadakan mitigasi pohon rawan tumbang, karena dapat membahayakan “Pohon yang sudah rapuh kering dan keropos khususnya di area objek wisata dan di pinggir jalan akan kita robohkan, dan akan melibatkan Muspika Lembang,  BPBD,  Kepala Cabang Dinas Kehutanan dan stkeholder lainya,” jelasnya.

Dia menambahkan penebangan tidak akan dilakukan sembarangan. Pasalnya, hutan pinus sebagai fungsi lindung, kecuali pohon tersebut membahayakan keselamatn umum. “Setelah diadakan mitigasi akan diadakan reboisasi. Satu pohon yang tumbang atau dirobohkan dan akan diganti lima pohon baru dengan pohon yang lebih kuat perakarannya dan cepat tumbuh, seperti  jenis damar,” paparnya.

Susanto mengatakan sebelumnya telah menanam pohon baru sebanyak 40 ribu pohon pada gerakan rehabilitasi hutan dan lahan. Hal itu sebagai upaya menjaga hutan agar tetap berjalan sesuai fungsinya. “Untuk menjaga hutan fungsi lindung ini, kami telah melakukan penanaman pohon baru, yang ditanam diantara tegakan pohon pinus. Tahun ini sekitar 40 ribu berbagai jenis pohon kami tanam dan nanti tahu 2021 kita juga akan lakukan hal serupa,” bebernya.

Meskipun badai audah bergeser kearah timur, Susanto tetap waspada dan pihaknya mengimbau terhadap objek wisata yang memanfaatkan hutan pinus untuk melakukan pemantauan berkala. “meskipun menurut informasi BMKG badai bergeser, pengelola wisata yang memanfaatkan hutan harus waspada, dan melakukan penutupan secara situasional, jika angin besar harus segera ditutup jika kembali normal silakan dibuka kembali,” imbuhnya.(eko/sep)