Perjuangan Tenaga Kesehatan Menanggulangi Covid-19, Tinggalkan Keluarga, Berisiko Terkonfirmasi

TANPA LELAH: Tenaga medis tengah menjalankan tugasnya tanpa lelah terus laksanakan tanggung Jawab. EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES

Selama Pandemi Covid-19 Tenaga kesehatan (nakes) menjadi bagian terpenting dalam penanganan pasien, yang terpapar virus berbahaya ini. Perjuangan Nakes menjadi catatan khusus bagi pemerintah Indonesia.

EKO SETIONO, Bandung

Berjibaku dengan waktu, meninggalkan keluarga demi kemanusiaan atas dasar tanggung jawab yang sedang embannya. Bahkan tidak sedikit nakes yang juga ikut terpapar virus ini, namun mereka tetap berjuang untuk kesehatan seluruh manusia.

Seperti di Bandung Barat, Berdasarkan data Dinas Kesehatan, total ada 10 orang tenaga kesehatan yang dinyatakan positif. Namun beberapa orang di antaranya telah sembuh, sedangkan sebagian lainnya masih dalam perawatan dan menjalani isolasi mandiri.
“Totalnya 10 orang, empat nakes positif di minggu ini ditambah enam nakes di minggu lalu. Tapi yang enam orang ini sebagiannya sudah sembuh,” terang Kepala Dinas Kesehatan Bandung Barat, Hernawan Widjajanto, Rabu (2/9).

Dia menyatakan, empat nakes yang saat ini belum sembuh tidak menunjukkan gejala sehingga hanya menjalani isolasi mandiri. Untuk mencegah penyebaran, pihaknya langsung melakukan tracing kontak erat dan riwayat pasien. “Mereka hanya isolasi mandiri saja karena statusnya Orang Tanpa Gejala (OTG). Kita masih belum bisa memastikan sumber penularannya dari mana,” bebernya.

Setiap harinya, Nakes-nakes terus berjuang dan disibukan oleh kegiatan kegiatan yang berhubungan langsung dengan masyarakat, seperti halnya Astri Permatasari tenaga medis di salah satu Puskesmas di Cimahi, yang selama beberapa hari terakhir sangat sibuk melakukan swab test bagi guru, masyarakat umum, dan sejumlah wartawan.
Sejak pagi hari tepatnya pukul 07.00 WIB, ia sudah tiba di tempatnya bekerja. Istirahat sebentar, lalu ia mulai bersiap mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap mulai dari baju hazmat, face shield, masker, hingga sarung tangan sebelum menghadapi orang-orang yang akan menjalani tes Covid-19.

Selama melaksanakan tugasnya, Astri mengaku banyak suka dan duka yang dirasakan. Paling terasa yakni ketika setiap hari ia dan teman-temannya harus mengenakan baju hazmat.

Lalu saat pulang, ia terpaksa bersih-bersih agar tidak menimbulkan risiko penularan pada anggota keluarga yang ada di rumah, terutama anak-anak.

Meskipun jadi ‘tumbal’ ketika kasus Covid-19 di Cimahi mengalami lonjakan, namun pihaknya mengapresiasi dukungan dari pemerintah yang menjamin ketersediaan APD.

“Ya paling kerasa itu kita tiap hari harus pakai baju hazmat, karena itu kan panas, terus engap, belum lagi kita pakai masker dan face shield, jadi menghirup oksigen dan karbondioksida secara bersama-sama, enggak sehat juga jadinya. Kita maksimal boleh pakai APD ini selama 3 jam. Karena lemas juga kalau lebih dari itu,” terangnya.(*/vry)