Petani di Kabupaten Bandung Barat Pasrah, Harga Sayuran Anjlok

Kabupaten Bandung Barat
PANEN: Petani saat memanen sayuran hasil pertanian. Di masa pandemi Covid-19, harga sayuran menurun drastis. EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES

LEMBANG-Pada kuartal dua tahun 2020, harga hasil pertanian di Kabupaten Bandung Barat (KBB) menurun drastis. Hal itu disebabkan melemahnya daya beli masyarakat dampak dari pandemi Covid-19.

Pantauan Pasundan Ekspres, harga sayuran di petani hanya berkisar Rp500-2.000/kg. Seperti Sawi Rp 500/kg, kembang kol Rp 1000/kg, burkoli Rp2000/kg, tomat Rp1000/kg, buncis Rp1500/kg, kol Rp1000/kg.

Petani asal Kecamatan Lembang KBB, Enjang mengeluhkan hasil pertaniannya tidak dapat menutup biaya operasional selama bertani pada empat bulan terakhir ini. Ia melihat situasi seperti ini hanya dapat pasrah, karena tidak banyak yang dapat diperbuat.

Baca juga: Petani Padaasih Laporkan Pemalsuan Dokumen Pertanahan

“Kalau tidak dikerjakan karena ini profesi saya sebagai petani tidak ada pekerjaan selain ini, kalau terus berlanjut kami terus mengalami kerugian. Namun jika melihat situasi seperti ini, kami petani tidak dapat berbuat apa-apa, kami pasrah, dan menunggu solusi terbaik dari pemerintah untuk petani,” ujarnya.

Akibat daya beli masyarakat di perkotaan yang menurun

Enjang mengungkapkan, akibat daya beli masyarakat di perkotaan yang menurun, berimbas pada hasil pertanian yang di bawa ke pasar besar, khusus sayuran tidak selaku sebelum adanya Covid-19.

“Bandar pun sama mengalami kerugian, akhirnya berdampak pada kami. Kami menjual kepada bandar sayuran, itu tidak langsung dibayar cash, setelah bandar pulang dari pasar baru kami dibayar, nah sementara bandar sayuran pun mengeluh karena sayuran yang dibawa kepasar di beli dengan murah, akhirnya mereka (bandar) tidak full membayar pada kami petani, bahkan ada yang diutang karena hasil penjualan dipasar juga tidak menutupi operasional,” paparnya.

Enjang mengilustrasikan, bahwa saat ini jika bertani biaya operasional untuk satu hektar tanah harus mengeluarkan biaya Rp 55 juta. Sementara hasil nya paling tinggi hanya mendapat Rp. 15 juta, meskipun sudah tumpang sari. “Operasional bertani sekitar 55 juta, hasil panen cuma 15 juta, itu belum biaya saat panen (upah panen), jadi operasionalnya aja tidak ke tutup,” ujarnya.

Dia menambahkan, sebelum ini pernah mengalami penurunan harga, tapi tidak pada semua komoditas pertanian, namun saat ini rata semua mengalami penurunan harga. “Dulu mah gak berkepanjangan mentoknya satu bulan normal lagi. Ini udah empat bulan malah terus menurun, prediksi jika tidak ada kenaikan harga sayuran gak naik petani akan lebih menjerit,” paparnya.(eko/sep)