Roni Sukses Budidaya Bunga Hias, Berawal dari Mediator Hingga Pembibitan Sendiri

Bunga Hias
SEMAI BIBIT: Agus Roni saat menyemai bunga hias jenis Sukulen di tempat pembibitan miliknya di Lembang.

Tak ada rotan akar pun jadi, begitulah apa yang dilakukan oleh Agus Roni petani bunga hias di kawasan Lembang Bandung Barat. Meskipun awalnya tak punya tempat untuk berkebun bunga hias, sejak merintis tahun 1998 sudah mendapat keuntungan dan kini telah memiliki Nursery (tempat pembibitan) sendiri.

EKO SETIONO, Lembang

Awalnya, Roni hanya sebagai mediator dalam penjualan bunga, dengan cara membeli ke bandar kemudian di jual kepada orang lain.

Namun siapa sangka, dengan ketekunannya Roni memiliki tempat usaha sendiri untuk budidaya bunga hias jenis Sukulen. Ratusan jenis bunga sukulen pun ia rawat dan dibudidayakan.

Baca Juga: Jelang Valentine, Permintaan Bunga Mawar Meningkat

Untuk mendapatkan jenis Sukulen yang bagus, Roni tidak tanggung tanggung membeli bibitnya dari luar negeri seperti Korea, Jerman, Amerika Hungaria, Thailand dan China, kemudian dibibitkan kembali di Indonesia. “Saat ini, kami tengah membudidayakan bunga 100 jenis bunga Sukulen, sebagian bibit bunganya ada yang di impor dari luar negeri diantaranya dari Korea, Jerman, Amerika Hungaria, Thailand dan China.” Ujar Roni.

Bahkan, penjualan pun Ia terobos pasar luar negeri seperti Korea dan Cina. Sementara pasar lokal yang menjadi pangsa pasarnya adalah Aceh Sulawesi, Bali, Jawa sudah menjadi daerah pemasaran yang bagus. Di masa jayanya, omzet yang didapat dapat mencapai Rp100-Rp500 juta per bulan.

Saat ini, meskipun Dimasa Covid-19 ini trend peminat bunga hias meningkat, namun omzet tidak sebesar beberapa tahun kebelakang. Hal itu disebabkan karena sudah banyak orang yang budidaya bunga hias. “Sebenarnya Penjualan lagi rame, Karena mungkin mereka bosan di rumah, jadi bunga hias lagi ramai,”ujar Roni.

Meskipun tidak seramai awal-awal menggeluti bunga hias jenis Sukulen, namun tiap bulannya omzet yang didapat tidak kurang dari 10-15 juta dari pasar lokal. ”

Pada tahun 90an omzet bisa mencapai 100-500 juta perbulan, karena saat itu mungkin yang budidaya paling juga 5-7 orang dan dijual pada pasar luar negeri, akan tetapi saat ini pembudidaya bunga hias ini sudah banyak, sehingga peluang pasarpun menjadi bersaing, jadi pendapatan berbeda dengan tahun 90an,” katanya.

Roni pun tidak menampik, bahwa bisnis bunga hias sangat menjanjikan, kerja keras dan pantang menyerah menjadi kunci sukses dalam berbisnis bunga hias.

“Awalnya hanya memediasi penjualan aja, Alhamdulilah kini memiliki Nursery Azaria succulent dan aset pun bertambah.Alhamdulilah, jika kita tekun kita akan mendapatkan hasil, kuncinya kita tekun, tekun dalam pemasaran dan pembibitan atau memeliharanya,” tukasnya.(*)