Taman Vertikal Disebut Berbiaya Mahal, Belum Lama Dibangun, Namun sudah Rusak

BANDUNG BARAT-Proyek gagal pembangunan taman vertikal di Jalan Cimareme kembali terulang di Jalan Kolonel Masturi, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Seperti halnya di Cimareme, taman vertikal di Jalan Kolmas pun rusak hanya dalam tempo beberapa waktu setelah selesai dibangun.

Berdasarkan pantauan, Jumat (14/9), taman vertikal di Jalan Kolmas, tepatnya di sekitar Curug Cimahi, dalam kondisi memperihatinkan. Dengan tinggi sekitar dua meter dan panjang sekitar 100 meter, taman itu lebih mirip pagar besi, karena cuma sedikit ada bunga yang ditaruh dalam pot. Kalaupun terdapat bunga, bunganya sudah mati mengering.

Seorang pengguna jalan, Azis (38) menuturkan, taman vertikal itu baru selesai dibangun, beberapa bulan lalu. Kerap lewat Jalan Kolmas untuk pergi dan pulang bekerja, dia mengaku sempat menyadari ada taman vertikal yang dipenuhi pot-pot bunga yang digantung. Akan tetapi, keberadaan taman vertikal itu lambat laun kian terbengkalai.

“Saya tidak ingat persisnya, tapi akhir Juni tahun ini saya pernah berhenti di sini. Waktu itu belum ada taman kayak begini. Pernah bagus, tapi enggak lama rusak. Rusaknya sedikit-sedikit. Bunganya kering, lalu pot-potnya menghilang. Semakin lama, pot yang hilang semakin banyak, sampai seperti ini,” kata Azis, di sekitar taman vertikal di Jalan Kolmas.

Di samping menyayangkan kegagalan pembangunan taman vertikal tersebut, dia pun mempertanyakan alasan pembangunannya. Pasalnya, taman vertikal itu berada di sekitar Curug Cimahi, yang merupakan kawasan hutan. Di daerah yang seperti itu, dia menilai, tidak diperlukan pembangunan taman, karena daerah di sekitarnya masih cukup asri.

“Saya bingung, buat apa dibangun taman di sini? Mungkin biar enggak ada pedagang atau buat mempercantik kawasan, saya enggak tahu. Di sini kan masih termasuk kawasan hutan. Monyet juga banyak yang ke pinggir jalan. Ada taman terus ada monyet, kan enggak lucu. Sekalian saja bikin taman di Gunung Burangrang,” katanya, diakhiri dengan nada bercanda.

Ditemui di kantornya, Kepala Bidang Pertanahan, Pertamanan, dan Pemakaman pada Dinas Perumahan dan Pemukiman KBB, Lia Yulia mengakui, pihaknya belum berhasil membangun taman vertikal, baik di Cimareme maupun di Kolmas. Meski begitu, dia menolak jika disebutkan bahwa pembangunan taman vertikal merupakan proyek gagal.

“Kalau gagal, enggak ada tamannya. Kurang berhasil lah. Kami masih terus mencari solusinya biar bunga di taman vertikal ini bisa hidup. Mekanisme pemeliharaannya sudah diganti, tapi tetap susah hidup. Namun, saya melihat contoh taman vertikal yang bagus, itu memang dibangun dengan biaya mahal,” katanya.
Menurut dia, pada tahun ini Dinas Perkim KBB melaksanakan sejumlah pembangunan taman. Di antaranya ialah di sekitar Kompleks Pemerintahan KBB di Ngamprah dan di Alun-alun Lembang. Adapun anggaran pembangunannya di bawah Rp200 juta.

“Di Padalarang ada satu, rencananya mau dibuat taman di Jalan Raya Padalarang,” katanya.

Berdasarkan data Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), pada tahun ini Dinas Perkim KBB tercatat mengadakan beberapa kegiatan belanja penataan taman, dengan nilai total lebih dari Rp1 miliar.

Diantaranya ialah taman di salah satu area pemda (lanjutan) senilai Rp 173,4 juta, taman di plasa upacara senilai Rp 173,4 juta, taman parkiran Gedung SKPD C senilai Rp 200 juta, taman parkiran Gedung SKPD B (lanjutan) senilai Rp 200 juta, taman sutet (taman buah) senilai Rp 200 juta, taman Plasa Bung Karno senilai Rp 200 juta, taman di Jalan Raya Padalarang senilai Rp 200 juta, taman Alun-alun Lembang senilai Rp 200 juta, dan taman di pinggir Jalan Grand Hotel Lembang senilai Rp 200 juta.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pembangunan taman vertikal di Cimareme, yang berada di bawah Jalan Tol Purbaleunyi, dilaksanakan pada 2015 dengan anggaran Rp130 juta. Pembangunan taman di lokasi tersebut dimaksudkan untuk mempercantik kawasan, setelah dilakikan penertiban bangunan liar. Akan tetapi, bunga yang dipasang mati tak lama setelah pembangunan dilakukan. Saat ini sisa-sisa taman di daerah itu malah menimbulkan kesan kumuh.(eko/din)