Warga Desa Gudang Kahuripan Main Lodong Sambil Menunggu Buka Puasa

LEDAKAN: Sejumlah anak anak ngabuburit sambil memainkan Lodong di Desa Gudangkahuripan. EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES

LEMBANG-Memanfaatkan halaman yang cukup luas, sejumlah anak Desa Gudang Kahuripan Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat (KBB) memainkan meriam bambu atau warga setempat biasa menyebut lodong.

Aktifitas sambil menunggu waktu buka puasa ini kini menjadi kebiasaan rutin anak-anak di desa ini dari pada berdiam diri di rumah dan hanya bermain game di smartphone atau gadget mereka. Tanpa rasa takut, anak-anak ini saling bergantian menyalakan lodong yang sudah dipersiapkan. Alhasil, suara dentuman yang keras bak meriam memecah kemeriahan mereka saat ngabuburit.

Salah seorang anak, Rizky (9) mengatakan, mengisi waktu ngabuburit dengan bermain lodong membuat waktu berpuasa jadi tak terasa. “Tahu-tahu sudah mau adzan Maghrib, saking asyiknya main lodong,” kata Rizky, Kamis (23/5).

Selain Rizky, anak-anak lain pun sama, mereka sangat gembira berpuasa sambil bermain lodong. Dadan (12) mengaku, bahan baku utama bambu sangat mudah didapat sehingga permainan tradisional ini sering dimainkan Dadan bersama teman-temannya. “Sudah seminggu, setiap jam 4 sore main lodong. Saya dan teman-teman hanya tinggal memainkan, karena ayah saya yang mencari bambu dan membuat lodongnya,” ujarnya.

Kepala Desa Gudang Kahuripan, Agus Karyana menyebutkan, entah dari kapan lodong dimainkan warga setempat. Namun pastinya, permainan ekstrem ini sudah menjadi tradisi turun temurun warga sejak puluhan tahun lalu untuk menunggu waktu berbuka puasa. “Sejak masih kecil, saya sering diajak orang tua bermain lodong. Mungkin jauh sebelum saya lahir, warga di sini sudah sering memainkannya, bukan hanya saat bulan puasa tetapi juga di hari-hari biasa,” ungkap Agus.

Mudahnya membuat lodong, menurut dia, menjadikan permainan ini sangat digemari semua kalangan mulai dari anak-anak, dewasa hingga orang tua. Setelah bahan utama adalah bambu tersedia, kemudian diberi lubang kecil untuk menembakan api, setelah lodong diisi karbit, tinggal dinyalakan lalu akan terdengar suara dentuman mirip peledak. “Supaya enggak mengganggu warga dan timbulkan dentuman yang sangat keras, lodong diarahkan menghadap ke hamparan kebun,” bebernya.

BACA JUGA:  Anak dan Remaja Desa Gempol Tadarus Bersama di Mushola usai Tarawih

Agar tak berbahaya bagi anak-anak, dia menjelaskan, permainan ini tetap harus di bawah pengawasan orang tua. Agus bersyukur, melalui permainan ini anak-anak bisa bersosialisasi dengan teman sebaya dari pada hanya berdiam diri di rumah. “Alhamdulillah, pengaruh permainan di handphone bisa sedikit distop. Karena selain untuk menyemarakkan bulan puasa, permainan ini sebagai pendidikan karakter untuk melatih fisik dan mental anak-anak supaya kuat dan berani,” jelasnya.

Agus menambahkan, permainan lodong biasanya berakhir menjelang magrib atau saat waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB.
Dia berharap, permainan tradisional seperti ini terus dilestarikan oleh generasi muda di tengah gempuran permainan modern yang saat ini semakin tak terbendung. “Sekitar setengah jam sebelum adzan, anak-anak ini biasanya bubar, besok sore kumpul bermain lodong lagi,” tambahnya. (eko/sep)