Harumkan Jabar di Ajang Internasional, Program Desa Digital Raih Penghargaan

BANDUNG – Jawa Barat menyabet penghargaan IDC Smart City Asia-Pasific Awards 2020 untuk kategori Digital Equity and Accessibility melalui program Desa Digital. Program Desa Digital tersebut, menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang meraih penghargaan di ajang internasional tersebut.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Jawa Barat, Setiaji menjelaskan, pengumuman penghargaan tersebut dilaksanakan melalui virtual mengingat pandemi Covid-19. Program Desa digital berhasil menyisihkan program dari DKI Jakarta, Korea Selatan, Selandia Baru, dan Australia.

”Terdapat 14 kategori dalam ajang tersebut. Program Desa digital yang digagas Pemprov Jabar menjadi yang terbaik di kategori Digital Equity and Accessibility dan menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang meraih penghargaan,” ujar Setiaji, Selasa (2/6).

Dijelaskan, program desa digital ini merupakan upaya Pemprov Jawa Barat untuk lebih menyejahterakan warganya. Dalam hal ini, terdapat beberapa upaya yang dilakukan bergantung dari kondisi desa yang menjadi target program. ”Kita membagi level desa itu mulai dari level 0 hingga level 4,” ungkapnya.

Desa dengan level 0 merupakan daerah  yang tidak memiliki akses internet atau blank spot. Dalam hal ini, Pemprov Jabar membangun infrastrktur internet dengan menyediakan wi-fi. Sedangkan desa level 1 adalah daerah sudah memiliki internet namun masih kurang dalam sisi literasi digital.

“Di desa level 1 ini, kita memberikan edukasi mengenai digital supaya lebih bisa dipahami oleh masyarakat,” katanya.

Menurutnya, untuk desa level 2 memiliki kondisi yang sudah terkoneksi internet dan sudah masuk edukasi literasi digital. Di level desa ini, Pemprov Jabar menekankan kepada pengunaan media sosial yang bijak supaya tidak terpapar hoaks.

”Sementara untuk desa level 3, kita fokuskan untuk e-commers dan desa level 4 adalah internet of thing,” terangnya.

Terkait dengan e-commers, Pemprov Jabar membangun pusat desa digital bekerja sama dengan Tokopedia. Dalam hal ini, masyarakat akan dimudahkan untuk memesan barang dan mengambil barang pesanan di pusat desa digital tersebut. ”Selain itu, masyarakat juga bisa memasarkan produknya di tempat itu,” tambahnya.

Yang menarik, lanjut Setiaji, dalam program desa digital ini pihaknya bekerja sama dengan pihak lain di sector perikanan, pertanian, dan peternakan. Dengan menggunakan digitalisasi, maka untuk memberi pakan ikan atau mengukur keasaman tanah bisa hanya dengan menggunakan gawai tanpa harus terjun sendiri.”Untuk sektor perikanan bekerja sama dengan e-fisheri dan pertanian dengan Habibie Garden,” tukasnya.

Diakuinya, program desa digital ini sudah dijalankan sejak 2018 lalu. Berdasarkan data, keberadaan desa tertinggal ini mampu mengangkat indeks pembangunan desa di Jabar. ”Hingga saat ini, sudah tidak ada lagi desa yang masuk kategori tertinggal,” tegasnya. (rls)