Banyak Usulan Rute KRL sampai Stasiun Cikampek

TRANSPORTASI: Stasiun Cikampek selama ini banyak digunakan warga untuk melakukan perjalanan dari wilayah Karawang menuju Jakarta atau sebaliknya. AEF SAEPULLOH/PASUNDAN EKSPRES

KARAWANG-Pemkab Karawang mengusulkan Kereta Rel Listrik (KRL) atau Commuter Line sampai Stasiun Cikampek. Tujuannya untuk memangkas jarak tempuh Karawang-Jakarta.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Karawang, Eka Sanatha mengungkapkan, pihaknya mendapat banyak masukan perihal dari masyarakat perpanjangan KRL sampai ke Stasiun Cikampek, termasuk dari pelaku usaha.

Hal ini untuk memudahkan masyarakat datang ke Karawang, atau dari Karawang ke ibukota.
“Selama ini banyak pengguna commuter line yang tinggal di Karawang. Kami ingin memudahkan masyarakat,” ujar Eka, Selasa (23/10).

Selain itu, kata dia, adanya KRL sampai Karawang bisa memangkas jarak tempuh dari kabupaten berjuluk lumbung padi ke Ibukota Jakarta tanpa terhalang kemacetan. Menurutnya, hal tersebut juga mengurangi tingkat kemacetan dari Karawang hingga Jakarta.

“Kalau dengan KRL dua jam bisa sampai Jakarta. Sementara jika dengan transportasi darat lainnya (mobil, bus) tidak bisa diprediksi,” tambahnya.

Surat pengusulan tersebut, lanjutnya, tinggal menunggu teken dari Bupati Karawang, Cellica Nurrachadiana.
“Saat ini sedang proses. Mudah-mudahan secepatnya bisa disampaikan kepada pemerintah pusat,” katanya.

Riri, salah seorang warga Klari, Karawang, berharap KRL sampai Karawang. Selain murah, KRL bisa memangkas waktu tempuh ke Tambun, tempat ia bekerja.

Riri bekerja sistem shift pagi dan siang. Jika shift pagi ia masuk pukul 08.00 WIB dan pulang pukul 15.00 WIB. Sedangkan jika shift siang ia masuk kerja pukul 14.00 WIB dan pulang pukul 21.00 WIB.

“Saya bekerja di Tambun. Biasanya, saya naik motor atau Kereta Rel Diesel (KRD). Terkadang juga menggunakan bus atau angkot,” ujar Riri.

Riri mengaku harus berpacu dengan waktu untuk sampai tempatnya bekerja tepat waktu. Jika naik KRD Jatiluhur Jurusan Tanjung Priok, ia harus berangkat pukul 5.24 WIB dari Stasiun Klari. Sebab, jika naik KRD pukul 06.28 WIB kereta penuh dan tak jarang terlambat sampai Stasiun Tambun. Tak hanya saat berangkat, saat pulang kerja, Riri juga harus berpacu dengan waktu, terutama saat pulang dari shift siang.

“Jika shift malam saya memilih menggunakan KRL sampai Stasiun Cikarang. Sebab, KRD dari Stasiun Tambun terakhir pukul 19.58 WIB, sementara saya pulang kerja paling awal pukul 21.00 WIB,” terangnya.

Dari Stasiun Cikarang, Riri kemudian melanjutkan perjalanan ke perempatan Tanjungpura menggunakan angkot. Kemudian ia berganti angkot nomor 17 untuk sampai Terminal Klari. Sebab, bus Primajasa terakhir sekitar pukul 21.00 WIB. Terkadang jam pulang kerja Riri kerap molor.

“Sampai rumah sekitar pukul 23.30 WIB. Ongkosnya pun sampai Rp 30.000 hingga Rp 40.000 sekali jalan. Berbeda dengan naik KRD yang hanya Rp 5.000 atau Rp 6.000 sekali jalan. Kalau siang lebih mendingan, dari Cikarang (perempatan SGC) bisa menggunakan Primajasa langsung ke Klari,” katanya.

Sementara jika mengendarai motor, ia kerap kelelahan. Lantaran banyak waktu yang terbuang di perjalanan itu, Riri akhirnya memutuskan untuk kos.
“Untuk menghemat waktu, saya akhirnya kos di Tambun,” katanya.(aef/din)