Dampak Tragedi Spill Oil Pertamina, Tangkapan Nelayan Menurun

MELAUT: Sejumlah nelayan Desa Tambaksari Tirtajaya pergi melaut untuk mencari ikan. Meski belum kembali normal seperti sebelum terjadinya tumpahan minyak Pertamina. AJI LEKSMANA/PASUNDAN EKSPRES

KARAWANG-Tragedi bocornya minyak mentah milik Pertamina di lepas pantai utara Karawang pada Juli 2019 lalu, ternyata masih menyisakan dampak ekonomi terhadap nelayan. Hal itu seperti yang diungkapkan oleh Tarmad (40), nelayan asal Dusun Sarakan Desa Tambaksari Kecamatan Tirtajaya. Menurutnya, hasil laut yang didapatnya menurun drastis praktis sejak tragedi kebocoran minyak.

“Kalo dibandingin sama sebelum tragedi kebocoran mah ya kurang jauh, sampe sekarang,” ungkap Tarmad saat ditemui di rumahnya pada Minggu (8/3).

Ungkapan senada juga dilontarkan oleh Sanip (26) yang mengatakan bahwa hasil tangkapannya masih belum kembali normal seperti sebelum terjadinya tumpahan minyak Pertamina. “Masih belum normal sekarang, masih sedikit,” ujarnya.

Dirman (46) menuturkan, sebelumnya ia biasa mendapatkan ikan hingga 150 Kg dalam sekali melaut dalam satu perahu, namun kini rata-rata hanya mampu mendapatkan 1-5 Kg dalam sekali melaut. “Kalo dulu itu sekali melaut dapet 150 Kg mah, itu nanti dibagi tiga orang dari satu perahu, jadi satu orang dapet 50 Kg,” tuturnya.

Tarmad menambahkan, hal ini merupakan dampak dari bocornya minyak Pertamina delapan bulan lalu yang menyebabkan ikan menjauh dari perairan yang selama ini menjadi lokasi para nelayan memasang jala.

“Jadi minyak itu gak bikin ikan mati, Saya juga gak pernah lihat ada bangke ikan gara-gara minyak, tapi minyak itu bikin ikan pada kabur, dan sampe sekarang belum pada balik lagi,” ungkapnya.

Paceklik selama 6 bulan

Tarmad juga menjelaskan, hal ini diperparah dengan kondisi alam yang sedang paceklik, di mana musim paceklik nelayan terjadi selama enam bulan dimulai pada Januari hingga Juni. “Tapi emang lagi paceklik juga, dari setiap awal tahun emang susah, tapi yang sekarang parah banget,” ucapnya.

Kendati musim paceklik dimulai pada Januari, kondisi sulitnya mendapatkan tangkapan ikan sudah terjadi sejak kondisi air laut sudah bersih dari tumpahan minyak pada Oktober 2019.

Hal ini membuat masyarakat pesisir berspekulasi walaupun tumpahan minyak sudah hilang dari lautan, namun tragedi itu memberikan dampak buruk berkepanjangan terhadap ekosistem laut. “Sebenernya kan kotor itu tiga bulan ya dari Juli sampe September, nah tapi dari setelah bersih juga masih susah nyari ikan, belum pada balik lagi ikannya,” ucap Dirman.

Minimnya jumlah ikan yang didapat jelas menyulitkan kondisi ekonomi masyarakat pesisir, para nelayan mau tidak mau harus dapat memutar otak mendapatkan pemasukan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal itu seperti yang dilakukan oleh Datim (40) yang membuka warung di rumahnya. “Ya Saya buka warung jadinya biar tetep ada pemasukan, walau hasilnya gak seberapa”, tutupnya.(lek/sep)