Desa Pasirjaya Jadi Sentra Jamur Merang

MODAL: Sejumlah petani jamur di Desa Pasirjaya terkendala modal dan pemasaran untuk mengembangkan produksinya. USEP SAEPULOH/PASUNDAN EKSPRES

KARAWANG-Desa Pasirjaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, selain memiliki Wisata Pantai Tanjung Baru dan banyak pesantren. Desa Pasirjaya, juga memiliki beragam olahan makanan. Salah satunya Jamur Merang.

Sejak awal tahun 2000-an silam. Desa Pasirjaya sudah dikenal sebagai sentranya jamur merang. Bahkan, di satu dusun, terdapat puluhan kumbung jamur. Dimana, setiap kumbungnya, bisa menghasilkan 2 kwintal jamur merang kualitas terbaik, setiap kali panen.

Satu diantara puluhan pembudidaya jamur merang, Sumarno, menjelaskan, jamur merang kualitas super dan terbaik di Karawang, ada di Desa Pasirjaya. Selain menggunakan bahan baku yang eksklusif dan berkualitas. Mulai dari proses pembibitan hingga proses panen. Jamur merang khas Desa Pasirjaya, di jaga dan di rawat dengan baik oleh para petani.

“Jamur disini sedikit berbeda. Ukurannya dia lebih besar, selain itu dagingnya tebal dan empuk. Apa lagi yang kualitas super, rasanya sungguh nikmat,” ujar Sumarno, Selasa (9/4).

Pria separuh baya yang akrab di sama Marno itu mengatakan, sudah puluhan tahun ia menjalankan bisnisnya di Cilamaya. Namun, hingga saat ini, belum pernah mendapat bantuan jenis apa pun. Baik dari pemerintah maupun swasta. Marno tak ingin, bisnisnya di usik oleh para tangkulak, yang memberikan sejumlah bantuan modal. Namun dengan syarat dan ketentuan yang mengikat.

“Kalau saya mandiri, tidak mau pakai modal dari tengkulak. Soalnya, kita nanti wajib menjual hasil panen pada mereka. Dengan harga yang tak sebanding dengan kualitas jamurnya,” ungkapnya.

Desa Pasirjaya memang dikenal keras. Selain cap kampung begal yang melekat, rupanya di desa yang juga punya kampung santri itu. Dijajah oleh permainan harga dan ikat kontrak paksa, yang dilakukan para tengkulak, kepada petani jamur merang disana.

“Kalau kualitas super, bapa jual ke tengkulak cuma dihargai Rp.30.000/kilogram. Sementara, kualitas biasa lebih rendah, sampai Rp.20.000/kilogram,” katanya.

Marno berharap, pemerintah melalui Dinas Pertanian, bisa membantu meringankan beban para petani jamur merang. Agar bisa sejahtera, seperti sedia kala. Apa lagi, kata dia, para petani siap memproduksi jamur merang untuk dipasok ke resto-resto maupun hotel. Dengan wadah koperasi yang dikeloa langsung oleh masyarakat.”Tapi hingga kini, belum juga ada yang memfasilitasi cita-cita kami tersebut,” ucapnya.

Padahal, kata Marno, potensi yang ada di Desa Pasirjaya sangat mempuni, untuk dijadikan desa sentra penghasil jamur merang. Jika mendapat dukungan, pihaknya siap, menjadi suplyer pada resto-resto atau UMKM yang membutuhkan baham baku jamur merang.

“Disini juga masih banyak petani jamur yang mandiri. Seperti saya, tidak terikat kontrak dengan tengkulak. Tapi, tidak bisa banyak berbuat, karena terbatas modal dan jaringan,” keluhnya.

Marno berharap, cita-cita para petani jamur merang, menjadi lebih sejahtera bisa segera terwujud. “Ingin cepat punya koperasi, supaya tidak ada permainan harga lagi di tingkat dasar,” katanya. (use/ded)