Kelompok Masyarakat Pengawas Pesisir Bantah Ada Dugaan Persekusi Najibulloh

KONPERS: Kelompok Masyarakat Pengawas Pesisir (Pokmaswas) Desa Sukajaya, Cilamaya Kulon saat melakukan konferensi pers di aula Kantor Camat Cilamaya Wetan, Senin (21/1). USEP SAEPULLOH/PASUNDAN EKSPRES

KARAWANG-Adanya dugaan persekusi pada Najibulloh dibantah oleh Kelompok Masyarakat Pengawas Pesisir (Pokmaswas) Desa Sukajaya, Cilamaya Kulon. Hal itu diungkapkan dalam acara konferensi pers yang berlangsung di aula Kantor Camat Cilamaya Wetan, Senin (21/1).

Kepala Desa Sukajaya, Abdul Rojak Astra, 50, mengatakan, kasus pencurian pasir laut (ilegal fishing) yang dilakukan Najibullah (53) berlangsung selama beberapa kali di Taman Ekowisata Mangrove Pasir Putih.

Bahkan, kata dia, Polisi Khusus (Polsus) Satpolairud Polres Karawang sudah menegur dengan keras. Tindakan melanggar hukum, yang dilakukan Najib, sampai 3 kali.

“Najib sudah beberapa kali kedapatan sedang mengambil pasir laut. Bahkan sudah dibuat surat pernyataan oleh Polsus, agar tak melakukan kembali. Tapi aksi itu terus dilakukan oleh Najib. Pada saat ditegur Pokmaswas, dia justru melakukan pemukulan lebih dulu kepada sekertaris Pokmaswas,” ungkap Abdul Rojak.

Di tempat yang sama, Sekertaris Pokmaswas, Sahari (53) menuturkan, salah satu tugas Pokmawas ialah mengawasi dan mengamankan wilayah pantai Karawang, dari ilegal fishing.
Dijelaskan Sahari, saat dirinya melakukan tugas pengawasan di Taman Ekowisata Mangrove Pasir Putih, dirinya menemukan orang suruhan Najib,sedang mengambil pasir laut.

“Saat itu, orang suruhan Najib mengambil 4 karung pasir dengan sepeda motor. Saat saya tegur, Najib justru marah. Tanpa alasan, dia memukuli saya. Sampai tangan dan kaki saya terluka. Tapi saya hanya menangkis dan menghindar,” ungkapnya.

Namun, hal berbeda, justru diungkapkan, Ketua Senopati 08, Zaenal Abidin, selaku kuasa hukum Najibullah. Menurutnya, hal yang sebenarnya terjadi, tidak seperti apa yang diungkapkan Pokmaswas dan Kepala Desa Sukajaya, Abdul Rojak.

Zaenal mengungkapkan, persekusi itu benar-benar terjadi dan dialami oleh Najibullah. Bahkan, ia mengaku, memiliki kumpulan bukti yang kuat. Terkait kasus pemukulan yang dilakukan 2 oknum Pokmaswas terhadap kilennya, Najibullah.

BACA JUGA:  Pejabat Daerah Diduga Persekusi Pegawai KPK

“Tidak benar itu. Orang Pak Najib kurus kering, masa bisa mukulin 2 orang berbadan kekar. Yang benar, saat itu, Pak Najib di pegangi oleh salah satu Pokmaswas, dan Sahari melakukan pemukulan beberapa kali ke arah wajah Pak Najib,” ungkapnya.
Zaenal mengatakan, ia bisa membuktikannya dengan hasil visum. Bahwa, kliennya, Najib, memiliki luka bekas pukulan benda tumpul, diareal wajah dan tubuhnya.

“Ayo kita buktikan, saya punya bukti-buktinya. Saya sudah bilang, yang namanya penganiayaan itu juga termasuk persekusi,” timpalnya.

Masih kata dia, bahkan tudingan mencuri pasir laut, yang dilayangkan oleh Pokmaswas Desa Sukajaya, dianggap tidak berdasar. Pasalnya, Zaenal mengaku, kliennya itu, sebagai penggarap tanah timbul yang sah. Dan memiliki surat keterangan garapan, dari pemerintah Desa Sukajaya, sejak tahun 2014 silam.

“Sudah lebih dari 7 tahun pak Najib mengelola mangrove itu, dengan biaya sendiri. Masa mengambil pasir di tanah sendiri, dianggap mencuri,” tukasnya, heran.

Di tempat terpisah Bupati Karawang, Cellica Nurracahadiana, mengatakan, kasus Najibullah sudah dalam penanganan penegak hukum. Cellica beranggapan, baiknya masyarakat menunggu sampai proses hukum keduanya selesai.

Dikatakan Cellica, dari data yang berhasil dihimpun oleh Muspida, tak ditemukan unsur persekusi dalam kasus pencurian pasir yang diduga dilakukan oleh Najibullah.
“Tidak ada unsur persekusi, kalau ada, sebelah mananya?,” ujar, Cellica.

Apa pun alasannya, kata Cellica, yang namanya aset desa, seperti tanah timbul dan hutan mangrove. Harus dijaga dan dirawat untuk kepentingan bersama. Bukannya, dirusak dan diambil, untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.

“Baiknya kita menyikapi dengan data-data yang konkrit. Bukan dari hasil keterangan sepihak,” katanya.

“Bagi saya, ketika nama Karawang disebut, maka saya harus cek kebenaran beritanya. Dan apa bila itu tidak benar, saya wajib untuk mengklarifikasi. Karena, itu akan berdampak buruk bagi kami,” imbuhnya. (use/din)