Ternyata Ini Asal-Usul Nama Kerupuk RO Camilan Khas Jawa Barat

Kerupuk RO Camilan Khas Jawa Barat
ADAM SUMARTO/PASUNDAN EKSPRES PRODAK OLAHAN: Kerupuk Raden Omay alias RO menjadi cemilan khas Blok RO, Desa Sempur, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta.
0 Komentar

Kerupuk RO, nama cemilan yang satu ini begitu dikenal oleh warga Jawa Barat. Keberadaannya pun dapat dengan mudah ditemui hampir di setiap daerah di Tanah Sunda, tak terkecuali di Kabupaten Purwakarta.

Laporan, ADAM SUMARTO

Adalah Desa Sempur, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta yang dikenal sebagai sentra-perajin kerupuk berwarna merah atau putih ini. Sebagian besar masyarakat di desa itu telah memproduksi kerupuk RO secara turun temurun.

Lalu apa sebenarnya kepanjangan dari nama RO itu? Usut punya usut ternyata penamaan makanan yang satu ini adalah singkatan dari nama pencetus atau pembuat awal kerupuk tersebut. “RO itu adalah singkatan dari Raden Omay yang merupakan pembuat awal kerupuk RO,” kata Een Nuraeni (28), salah satu pembuat kerupuk RO di Desa Sempur, Kecamatan Plered, saat ditemui wartawan, beberapa waktu lalu.

Baca Juga:Catat Tanggalnya!! Ini Daftar Bansos Cair di Bulan November 2021Ini Daftar 7 Perwira Polri yang Dicopot Kapolri

Uniknya, nama RO ini dicetuskan oleh warga sekitar yang juga penggemar kerupuk tersebut. “Karena pada saat itu belum ada namanya, masyarakat pun menyebutnya Kerupuk Raden Omay. Hingga pada perkembangannya disingkat menjadi Kerupuk RO. Nama itu pun melekat dan dipakai hingga kini,” ujarnya.

Raden Omay sendiri, kisah Een, pertama kali membuat serta mengenalkan RO pada 1982 silam. Secara turun temurun, produksi RO terus berlanjut hingga kini di sebuah kampung dengan sebutan Blok RO di Desa Sempur. “Raden Omay itu kebetulan kakek saya, sepeninggal Raden Omay kemudian usaha pembuatan RO ini dilanjutkan bapak saya, Sohibi (70). Pada 2011, saya melanjutkan usaha ini. Saya sendiri merupakan generasi ketiga,” kata dia bercerita.

Seiring perkembangannya, kerupuk RO tidak hanya diproduksi oleh Een, melainkan warga lain juga ikut memproduksi kerupuk serupa sebagai sumber ekonomi yang menjanjikan. “Hampir seluruh warga di blok RO membuat kerupuk RO, dan bisa menyerap tenaga kerja,” ujar Een.

Teknik pembuatan RO sendiri diawali dengan membuat adonan tepung tapioka ditambah bumbu dapur. Kemudian, adonan tersebut dicetak sesuai ukuran kemudian dijempur di bawah terik sinar matahari selama satu atau dua hari tergantung cuaca.

Jika sudah kering, kemudian RO digoreng di atas tungku perapian tanpa menggunakan minyak goreng. “RO kemudian dikemas dan siap dipasarkan ke warung atau ke toko oleh-oleh yang ada di sekitar Purwakarta,” ucapnya.(add/sep)

0 Komentar