Tunggakan BPJS Capai Puluhan Miliar

TUNGGAKAN: RSUD Karawang menyatakan tunggakan klaim BPJS mencapai puluhan miliar rupiah. USEP SAEPULLOH/PASUNDAN EKSPRES

Ganggu Keuangan Rumah Sakit, Termasuk Penyediaan Obat

KARAWANG-Sejumah rumah sakit mengeluhkan adanya keterlambatan pembayaran pembayaran klaim pasien BPJS Kesehatan. Keterlambatan pembayaran itu dinilai sangat mengganggu cash flow keuangan rumah sakit.

Plt Direktur Utama RSUD Karawang, Sri Sugihartati mengatakan, tagihan klaim tiga bulan terakhir di tahun 2018 jumlahnya bervariasi. Pada bulan Oktober, jumlah klaim mencapai Rp13,7 miliar. Jumlah klaim pada bulan November lebih sedikit yakni Rp 12,2 miliar.

Sementara klaim pada bulan Desember sebesar Rp 10,6 miliar. Jumlah klaim sebesar itu hingga kini belum juga kunjung cair. Jumlah tunggakan klaim tersebut belum ditambah klaim yang dipending pihak BPJS Kesehatan pada tahun 2017 yakni sebesar Rp 3 miliar. Berikut klaim tahun 2018 hingga Rp 17,3 miliar.

“Ini jelas sangat mengganggu cash flow RSUD. Sehingga hutang kami ke pihak farmasi untuk penyedian obat-obatan maupun BHP (Barang Habis Pakai) masih Rp15,4 miliar,” ujar Sri.

Dikatakan Sri, dalam kondisi seperti ini, semestinya RSUD punya standby loan Rp10 miliar per bulan. “Tapi ya mau bagaimana lagi? Sedangkan pelayanan terhadap pasien, termasuk peserta BPJS Kesehatan, tetap harus berjalan,” keluh Sri pasrah.

Senada, Direktur Utama RSIK (Rumah Sakit Islam Karawang), Agus M. Sukandar menyatakan, jika piutang rumah sakitnya yang belum dibayar pihak BPJS Kesehatan di bulan Oktober dan Nopember 2018 sekitar Rp5 miliar.

Kendati demikian, pihaknya tetap menjaga komitmen bersama pemerintah melalui BPJS Kesehatan untuk melanjutkan pelayanan hingga satu tahun ke depan selama 2019. “Karena dalam satu tahun ini kita juga diberikan kesempatan buat memperbaiki akreditasi,” katanya.

Sementara itu Kepala Cabang BPJS Kesehatan Karawang, Unting Patri Wicaksono Pribadi mengatakan, pelayanan kesehatan ini merupakan program Negara. Sehingga pembayarannya dijamin oleh Negara.

“Permasalahan keterlambatan pembayaran sebenarnya sudah ada kebijakan yang namanya supply chain financing. Bank mitranya siap untuk mengisi kekosongan itu. Ketika rumah sakit mungkin ada keterlambatan pembayaran, masa keterlambatan ini diisi dengan supply chain financing dari perbankan,” katanya. (use/din)

RSUD Karawang:
Tahun 2018:
1. Oktober: Rp13,7 miliar
2. November: Rp 12,2 miliar
3. Desember: Rp 10,6 miliar
Tahun 2017: Rp 3 miliar

Rumah Sakit Islam Karawang:
Oktober dan Nopember 2018: Rp5 miliar