Usir Wartawan, Oknum Pegawai RS Lira Terancam Dipolisikan

KARAWANG-Buntut pengusiran salah seorang jurnalis Karawang Bekasi Ekspres (KBE), Hudri Amin oleh oknum manajemen RS Lira Medika. Hal tersebut sangat disesalkan dan dikecam oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Karawang.

“Tugas wartawan dilindungi oleh undang-undang nomor 40 tahun 1999 tentang pers. Perilaku yang dilakukan oleh oknum manajemen tidak dibenarkan dan sangat disesalkan,” kata Sekretaris PWI Karawang, Nila Kusuma, kemarin (16/2).

Nila mengatakan, intinya harus ditindaklanjuti sesuai dengan aturan. Dan memberikan pemahaman kepada publik jika kerja wartawan itu dilindungi undang undang. “Makanya, kami (PWI Karawang, red) menyarankan agar membuat laporan polisi atas tindakan oknum manajemen rumah sakit,” jelasnya.

Sebelumnya, perlakuan tidak mengenakan diterima oleh salah seorang jurnalis Karawang Bekasi Ekspres (KBE), Hudri Amin. Ia diusir oleh manajemen RS Lira saat mengikuti jalannya pertemuan manajemen rumah sakit dengan salah satu yayasan membahas dugaan dengan sengaja membuang limbah medis di lokasi TPS warga yang ramai jadi cemoohan publik dan sedang diusut oleh pihak kepolisian.

Hudri menceritakan awalnya ia mendapat informasi akan ada pertemuan salah satu yayasan dengan manajemen RS Lira. Ia yang memang ingin mewawancarai manajemen RS Lira soal kasus pembuangan limbah medis datang ke lokasi pertemuan di Gedung RS Lira, Palumbonsari Kecamatan Karawang Wetan.

Baca Juga : Diduga Limbah B3 Kembali Ditemukan, Satgas Citarum Minta Polisi Usut Tuntas

Setelah sampai di lokasi, Hudri meminta izin kepada customer service pihak RS. “Dari mana Mas?.” ujar pihak RS Lira. “Dari Koran KBE, mau liput pertemuan,” jawab Hudri.
Hudri diminta menunggu terlebih dahulu. Tak lama, pihak RS Lira yang tadi meminta izin dahulu kepada atasan ya datang lagi, dan meminta Hudri mengikuti dia ke ruangan tempat pertemuan dilaksanakan dan langsung mencari tempat duduk.

“Awalnya suruh nunggu mau minta konfirmasi lagi, nah pihak RS datang lagi sambil nyuruh saya ikut buat diantar di ruangan pertemuan,” beber Hudri.

Cek- cok antara dua belah pihak yayasan dan manajemen RS Lira

Diantara peserta yang hadir dalam pertemuan itu, Hudri mengambil foto, dan merekam jalannya pertemuan yang sempat terjadi cek- cok antara dua belah pihak yayasan dan manajemen RS Lira membahas siapa yang harus bertanggung jawab soal adanya kasus pembuangan limbah medis RS Lira yang saat ini kasusnya tengah ditangani pihak kepolisian.

Hudri yang terus menyimak perdebatan tiba-tiba ditanya darimana, Hudri menjawab sebagaimana jawaban yang ia berikan pada customer seri ce RS Lira, “Dari KBE,” kata Hudri.

Wajah seisi ruangan kata Hudri tampak kaget. Bukan tanpa sebab, pembicaraan dan perdebatan kedua pihak kadung panas dan banyak informasi yang Hudri dapatkan saat mengikuti pertemuan itu soal kronologis dan kasus limbah medis RS Lira.

Diusir ke luar ruangan

Ia Menjelaskan kemudian dirinya diusir ke luar dari ruangan. Saat bergegas ke luar, ternyata dia dikejar oleh salah satu perwakilan RS Lira. Tidak lama, menyusul sekuriti RS Lira yang langsung digiring ke ruangan sekuriti. Di dalam ruangan Hudri ditanya beberapa hal, bahkan foto dan rekaman yang Hudri simpan di handphonenya diminta dihapus. “Saya tolak,” ucap Hudri.

Buntut dari kejadian ini Hudri yang langsung melaporkannya ke jajaran redaksi KBE berniat akan membawa kasus ini ke ranah hukum. Ia didampingi jajaran redaksi KBE berencana akan membuat laporan kepolisian atas dugaan penghalang-halangan tugas jurnalistik yang sedang ia kerjakan.

“Kami sedang mengakaji. Tadi saya sudah berkomunikasi dengan pimpinan redaksi dan perusahaan sih. Besok kita putuskan soal kemungkinan membuka laporan kepolisian,” ujar Redaktur Pelaksana KBE, Mahesa Bahagiastra. (aef/ded)