Keterbatasan Fisik Bukan Halangan, Pasutri Disabilitas Sukses Bisnis Kue Kering

Diceritakannya, awal mula berkecimpung di dunia UMKM dengan mencoba belajar cara membuat kue kering secara otodidak. Itu pun, awalnya untuk konsumsi sendiri.

Kemudian, dirinya ingin lebih mengembangkan diri dan fokus mendalami usahanya ini. “Untuk itu saya sempat ikut kursus di Bandung untuk mendalami cara membuat kue ini,” ucap dia.

Saat awal belajar membuat kue, kondisi fisiknya sudah seperti sekarang ini, yakni tidak bisa menggerakan tangan dan kaki secara maksimal. Namun, karena tekad dan niatnya sudah bulat, akhirnya dia bisa mengembangkan bakatnya ini.

Susana mengisahkan, dirinya menyandang disabilitas sejak berusia 8 tahun. Saat itu, dirinya mengidap satu penyakit persendian yang memaksa dirinya untuk dirawat secara intensif di rumah sakit. Namun, selepas pulang dari rumah sakit bukannya sembuh, malah harus dibantu kursi roda.

BACA JUGA:  GP Ansor Kecamatan Dawuan: PKD Pencerahan Umat dan Organisasi

Dirinya mengaku sempat frustasi dengan kondisinya itu. Namun, besarnya support keluarga yang membuat dirinya bisa bertahan untuk menjalani hidup. Apalagi, saat ini juga ada dukungan dari suaminya untuk mengembangkan usaha makanan ringan tersebut. “Saya menikah 2011 lalu. Sejak saat itu, saya bersama suami berkomitmen untuk fokus ke pengembangan produk,” kata Susans.

Hebatnya, kondisi suaminya pun sama. Satu kakinya lumpuh dan hanya bisa berjalan dengan bantuan tongkat. Namun, keterbatasan fisik keduanya tidak menyurutkan semangat untuk terus produktif. Kini usahanya maju, dan produknya pun mulai dikenal secara luas. “Ini juga berkat bantuan dari pemerintah yang terus mensupport para pelaku UMKM. Adanya Galeri Menong, salah satunya yang turut menyukseskan bisnis makanan ringan kami,” ucapnya.(add/sep)

BACA JUGA:  Dorong Cabor eSport Dipertandingkan di Porda 2022