KH Muhyidin Tokoh Ulama Pejuang Kemerdekaan

DADAN RAMDAN/PASUNDAN EKSPRES PAHLAWAN NASIONAL: Gubernur Jawa Barat M.Ridwan Kamil saat menerima piagam penghargaan gelar pahlawan nasional di Ponpes Pagelaran 1 Cimeuhmal Tanjungsiang, Rabu (11/11)

SUBANG-Pemancangan bambu runcing di atas pusara KH. Muhyiddin di Ponpes Pagelaran 1 dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat M. Ridwan Kamil, Rabu (11/11).

KH. Muhyidin atau Mama Pagelaran adalah tokoh ulama di Jawa Barat dan pendiri Pesantren Pagelaran 1 hingga berkembang ke sejumlah daerah di Jawa Barat
Ada sejumlah pertempuran perlawanan dengan Belanda dan Jepang seperti pertempuran di Ciater, Cijerah dan Bandung Utara. Dan saat itu membentuk pasukan hizbullah yang kemudian bergabung dengan TKR. Bahkan saksi hidup yang pernah bersama-sama berjuang masih ada yaitu Nana Suryana seorang veteran (LVRI).
Dalam sejarahnya KH. Muhyiddin (Mama Pagelaran) dua kali dipenjara oleh Belanda, dan dimusuhi oleh DI/TII karena menolak bergabung dan juga PKI.
Gubernur Jawa Barat M. Ridwan Kamil kepada sejumlah media mengatakan, mengucapkan terimakasih kepada institusi yang mengusulkan kepada pemerintah atas pemberian gelar pahlawan nasional. Pihak keluarga tidak pernah menginisiasi terkait pengusulan tersebut. Karena kakeknya (Mama Pagelaran) berpesan bahwa perjuangan harus dilandasi oleh keikhlasan, tidak mengharapkan sesuatu apapun.
Ada tiga hal yang menjadi pedoman dan pesan Mama Pagelaran yaitu, segala sesuatu harus dengan keikhlasan, seperti halnya, perjuangan kemerdekaan karena dasar mencintai negara, dan hal itu sebagian dari iman.
Kedua adalah islah atau mencari solusi terbaik dari setiap perselisihan antar sesama. Dan Ketiga sikap kehati-hatian dalam mengambil sebuah keputusan. “Itah pesan kakek saya, dan menjadi landasan pedoman dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Sementara itu Bupati Subang H. Ruhimat mengatakan, sesuai dengan historis dan nilai-nilai perjuangan, betapa pahitnya perjuangan KH. Muhyiddin (Mama Pagelaran) ikut terlibat dan juga menghimpun kekuatan dengan pasukan hizbullahnya, melawan penjajah Belanda dan Jepang. “Mari kita baca, kita hayati dan kita amalkan, mudah-mudahan Subang menjadi lebih baik,” tukasnya.(dan/sep)