Masyarakat Pertanyakan Usulan Bupati, Dua Tokoh Subang jadi Pahlawan Nasional

10 November, selalu diperingati sebagai hari pahlawan nasional. Seiring dengan peringatan hari tersebut, masyarakat mempertanyakan pernyataan Bupati Subang H Ruhimat yang dikeluarkannya pada Januari 2020, tentang usulannya menjadikan dua tokoh Subang sebagai Pahlawan Nasional, yakni KH Muhyiddin dan Rd Ama Purwadireja.

———

Saat itu Bupati Subang H Ruhimat menyampaikan usulannya pada Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) dan unsur Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, Dinas Sosial Kabupaten Subang serta BP4D Kabupaten Subang di Ruang Rapat Bupati.

“Sempat ada pernyataan dari Pa Bupati, namun sampai sekarang belum tahu bagaimana kelanjutan wacana tersebut,” ungkap salah satu warga Subang, Dani Wardani (32).

Saat coba dikonfirmasi terkait hal tersebut pada Bupati Subang, melalui stafnya Subangkit menyebut bahwa belum ada info. “Coba ke dinas kebudayaan,” ungkapnya.

 

Ama Raden Puradiredja mempunyai ayah bernama Raden Adimiarsa dan Ibu Nyi Mas Yati, beliau dilahirkan dan wafat di rumah yang sama di Blok Gudang Garam, Sagalaherang. Sang ayah adalah keturunan langsung dari Dalem Aria Wangsa Goparana.

Ama Poeradiredja merupakan pemimpin PS, yakni Pentjak Silat atau Partisan Siliwangi atau Pejuang Siliwangi, yang merupakan salah satu organisasi paling tua atau lama, dan mempunyai anggota terbanyak di Indonesia. Ormas ini bukan ormas politik, bukan juga ormas keagamaan. Ormas ini bergerak diawali dengan pendidikan budi pekerti atau moral kepada anggotanya tanpa melihat suku, agama, ataupun apa statusnya di jaman kolonial.

Pada saat pecah perang revolusi, PS menjadi pasukan garis depan sebagai penghancur sekutu atau Nica. Setelah kemerdekaan mengisi dengan pembangungan di segala bidang. Salah satunya pelopor transmigrasi ke Lampung tahun 1950, sekarang di Lampung Barat hampir 70 persen penduduknya adalah warga PS.

TP2GD Sebut Hanya KH. Muhyiddin dari Kabupaten Subang

Sementara itu, KH Muhyiddin merupakan pendiri delapan pesantren yang diberi nama Pagelaran, yang tersebar di Subang, Purwakarta, dan Sumedang. Pada masa penjajahan Belanda, KH Muhyiddin juga dikenal sebagai pemimpin para pejuang bersama pasukan Hizbullah. Dibawah pimpinannya pasukan Hizbullah, pernah menyerang garis pertahanan Sekutu di Bandung Utara. Dalam penyerangan itu, markas tentara NICA di Ciateul, Bandung, menjadi salah satu sasaran para pejuang. KH Muhyiddin merupakan kakek dari Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Setelah ditelusuri, usulan Bupati tersebut ternyata sudah sampai di Pemerintah Provinsi, juga direspon baik oleh Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum. Dia menyampaikan dukungannya dan mengapresiasi tokoh- tokoh besar apalagi dari komunitas pesantren dari kalangan kiai untuk diberi gelar pahlawan nasional.

“Pengusulan kedua tokoh tersebut sebagai pahlawan nasional merupakan bentuk pengakuan dan apresiasi Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jabar atas jasa dan karya mereka. Alalagi peran para ulama sangat penting dalam pembangunan manusia,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Daud Achmad mengatakan, beberapa persyaratan untuk dijadikan seseorang tokoh menjadi pahlawan nasional maka harus melaksanakan seminar, dan itu susah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, tokohnya selain dari Kabupaten Subang, ada dari Kabupaten Garut.

“Di tengah pandemi Covid-19 dengan mengikuti anjuran physical distancing, Seminar Nasional Pengusulan Pahlawan Nasional asal Jawa Barat, KH. Muhyiddin dari Kabupaten Subang dan KH. Anwar Musaddad dari Kabupaten Garut, sudah dilaksanakan dengan video conference, belum ada penetapan, kita tunggu,” pungkas Daud.(idr/vry)