Pasarkan Produk Melalui Sistem Digital

SAMPAIKAN DATA: Gubernur Ridwan Kamil memberikan keynote speech pada webinar terkait pelaku UMKM di tengah pandemi. (FOTO: HUMAS PEMPROV JABAR )

BANDUNG – Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil memberikan keynote speech pada webinar “UMKM Jabar di Era Adaptasi Kebiasaan Baru” dari Gedung Pakuan, Kota Bandung, Rabu (24/6).

Emil –sapaan Ridwan Kamil– berujar, perekonomian di Jabar kembali didorong selama kegiatan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di angka 2 sampai 3 persen meski terdampak pandemi global COVID-19.

“Kalau Jabar tidak melakukan upaya-upaya ekonomi, tidak melakukan AKB bulan Juni ini, hasil hitungan (pertumbuhan) ekonomi bisa minus di bawah 0 persen. Dengan pembukaan ekonomi, kita bisa pertahankan (pertumbuhan ekonomi) maksimal 2 sampai 3 persen,” ujar Emil.

“Kami akan mengizinkan pembukaan 90 persen ekonomi di Zona Biru dan 60 persen di Zona Kuning, sehingga UKM dan ekonomi bisa perlahan-lahan (kembali beraktivitas) sambil kita terus mengendalikan (pandemi) dengan Adaptasi Kebiasaan Baru,” tambahnya.

Adapun berdasarkan laporan Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jabar pada 12 Juni lalu, 10 daerah yang berada di Zona Kuning atau Level 3 adalah Kabupaten Bekasi, Bogor, Garut, Indramayu, Karawang, Sukabumi, dan Kota Bandung, Bekasi, Bogor, dan Depok.

Sementara 17 daerah di Zona Biru atau Level 2 yakni Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Ciamis, Cianjur, Cirebon, Kuningan, Majalengka, Pangandaran, Purwakarta, Subang, Sumedang, dan Tasikmalaya, serta Kota Banjar, Cimahi, Cirebon, Sukabumi, dan Tasikmalaya.

Emil menambahkan, selama pandemi COVID-19 ini ada sekitar 37 ribu Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang terdampak karena daya beli masyarakat yang menurun, bahan baku sulit didapat, serta aktivitas ekspor dan impor yang dibatasi.

Selain itu, tren masyarakat pun mulai beralih ke digital. Untuk itu, Emil mengimbau para pelaku UKM untuk bermigrasi menggunakan teknologi digital mengikuti tren yang ada di masyarakat.

“Peluang usaha di AKB itu warga ingin bertransaksi tapi malas bergerak, karena membatasi diri selama obat dan vaksin COVID-19 belum ditemukan. Maka ada peluang-peluang untuk memanfaatkan teknologi digital,” kata Emil.

“Kenaikan UKM digital di Jawa Barat di angka 17 persen. Mudah-mudahan dengan (pandemi) COVID-19 ini ada hikmahnya, wajib untuk migrasi ke digital,” tegasnya.

Emil juga berpesan kepada pelaku UKM untuk menggerakkan kembali usahanya dengan memanfaatkan media dalam jaringan (online), mengasah teknik storytelling untuk promosi, menjaga hubungan baik dengan pemilik bisnis lainnya, memperbaiki kualitas produk, serta menggunakan skala anggaran guna menjaga stabilitas ekonominya.

Sementara untuk menghindari munculnya episentrum COVID-19 dari aktivitas pembukaan ekonomi ini, Kang Emil menegaskan pihaknya sudah menyiapkan 627 mobil tes COVID-19 untuk setiap kecamatan di Jabar dan beberapa unit mobil laboratorium mini yang mampu melakukan pengetesan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan swab test (tes usap).

Sementara, Sekretaris Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Prof. Rully Indrawan mengatakan, pandemi Covid-19 memberikan tekanan dari segala arah. Salah satunya supply dan demand.

Menurut Rully, banyak pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang tidak akan bertahan jika pandemi terus berlanjut. Sebab, saat ini diprediksi sudah mencapai 70 persen pelaku usaha yang terdampak.

“Sekitar 70% UMKM terkena dampak luar biasa. Jumlah permintaan turun, pasar mengecil. Sehingga bisnis sulit untuk dijalankan,” ucap Rully di acara yang sama.

Dikatakannya, keadaan ini berbeda dengan krisis 1998 dan 2008 lalu. Sebab, kata dia, krisis akibat Covid-19 lebih kompleks. “Berdasarkan 40 hasil survey yang dilakukan di seluruh dunia pada 10 Februari-13 Mei 2020, lebih dari 50% UMKM menghadapi penurunan pendapatan secara tajam,” katanya.

Lebih lanjut, dari 30% responden tidak akan bertahan jika tidak mendapat dukungan dalam satu bulan ke depan dan lebih dari 50% responden tidak akan bertahan dalam tiga bulan ke depan. Indikasinya, sambung dia, penurunan penjualan, pengurangan tenaga kerja, dan berkurangnya cadangan kas.

“Persoalan utama yang dihadapi UMKM adalah pemasaran dan permintaan, sedangkan koperasi adalah permodalan,” pungkasnya. (rls)