Pulihkan Kunjungan Wisatawan di Masa AKB, Disparbud Jabar Luncurkan Gerakan BISA

BANDUNG – Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar, Dedi Taufik mengatakan guna mengembalikan kepercayaan masyarakat untuk berwisata dalam masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) merupakan bagian awal upaya pemulihan sektor pariwisata yang terpuruk akibat Covid-19.

Menurutnya, hal tersebut harus bisa diatasi dengan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha dan kelompok masyarakat.

“Kolaborasi untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat bisa dengan cara memastikan kawasan destinasi aman, bersih dan fasilitas penunjang protokol kesehatan sudah siap digunakan,” kata Dedi Taufik, Kamis (30/7).

“Sejalan dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) membuat Gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat, dan Aman),” imbuhnya.

Dedi menjelaskan, gerakan BISA adalah herakan Padat Karya yang merupakan implementasi dari arahan Presiden Joko Widodo, untuk gerakan perlindungan sosial bagi pelaku dan usaha pariwisata dan ekonomi kreatif.

Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengoptimalkan pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif dalam menangani dan meningkatkan kebersihan, keindahan, kesehatan, dan keamanan masyarakat di destinasi wisata alam untuk menghadapi kondisi normal baru pasca Covid-19.

“Gerakan ini juga fokus terhadap kesehatan. Bagaimana kesehatan menjadi modal utama dalam strategi pemulihan pariwisata di masa pandemi COVID-19. Ini juga sebagai upaya untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat,” kata Dedi.

Di sisi lain, sambung dia, kedisiplinan dalam implementasi protokol kesehatan tetap harus menjadi perhatian utama.

“Pengelola destinasi wisata harus menyediakan fasilitas, seperti tempat cuci tangan dan pengecekan suhu tubuh serta protokol jaga jarak harus tetap diperhatikan,” sambungnya.

Dalam perubahan industri pariwisata yang harus beradaptasi dengan kebiasaan baru. Gerakan BISA pun bertujuan untuk memberdayakan para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif serta masyarakat yang terdampak ekonominya.

“Gerakan ini diharapkan dapat membantu mendorong perbaikan indikator health and hygiene dan safety and security di lingkungan destinasi pariwisata untuk peningkatan peringkat TTCI,” pungkasnya.

Program ini diselenggarakan di 16 provinsi seluruh indonesia. Di Provinsi Jawa Barat, program ini sudah berjalan di sejumlah wilayah di antaranya Kota Bandung, Kabupaten Bandung hingga Kabupaten Tasikmalaya. Ratusan peserta terlibat, terdiri dari relawan, tenaga kerja dan pelaku pariwisata dengan sasaran destinasi wisata alam. (rls)