Ajak Anak Berpikir Kritis, Pendidikan TK dan SD Bakal Berbasis STEM

ADAM SUMARTO/PASUNDAN EKSPRES KERJASAMA. SEAMEO QITEP In Science (Seaqis) menggelar kerja sama dengan APKS PGRI Jabar terkait pembelajaran berbasis STEM.

PURWAKARTA-Pendidikan berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) bakal diterapkan pada sistem pembelajaran di tingkat TK/RA dan SD/MI di Kabupaten Purwakarta.
Hal ini ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara South East Asia Ministry of Education Organization (SEAMEO) Quality Improvement of Teachers and Education Personel (QITEP) in Science atau disingkat Seaqis dengan Asosiasi Profesi Keahlian Sejenis (APKS) PGRI Provinsi Jawa Barat.
Penandatanganan tersebut dilaksanakan di Hotel Plaza Kota Bukit Indah Purwakarta dan disaksikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta Dr H Purwanto M.Pd dan Ketua PGRI Jawa Barat Drs H Dede Amar MM.Pd, Kamis (24/9).
Adapun MoU tersebut menyatakan bahwa Seaqis dan APKS PGRI bersepakat untuk berkerja sama dan saling menunjang dalam melaksanakan tugas dalam rangka peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD), dasar, dan menengah. Serta, membina hubungan antara kelembagaan dan bidang lainnya sesuai fungsi dan kewenangan masing-masing.
Direktur Seaqis Dr Indrawati M.Pd menyebutkan Pendidikan STEM merupakan pendekatan dalam pendidikan di mana sains, teknologi, teknik, matematika terintegrasi dengan proses pendidikan. Yakni, berfokus pada pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari yang nyata serta dalam kehidupan profesional. “Penerapan STEM diperlukan kerja sama antara guru dan orang tua. Bagaimana nanti dengan proyek-proyek yang bisa dilakukan di rumah ini dikemas oleh guru untuk bisa meningkatkan perkembangan anak, dimulai dari TK/RA dan SD/MI,” kata Indrawati saat ditemui di lokasi.
Dijelaskannya, pembelajaran STEM ini mengajak anak berpikir lebih kritis saat melihat situasi, kondisi, dan masalah di sekitarnya. Sehingga dapat memberikan solusi terhadap kondisi atau permasalahan tersebut. “Misal di rumahnya sedang mengerjakan proyek membuat kue donat. Biasanya bahan pembuat donat ini hanya menggunakan tepung. Lalu anak ini berpikir, apakah bisa dibuat dengan bahan tape. Kemudian dari sisi engineering (teknik)nya anak ini belajar menggunakan blender, mixer, dan lainnya,” kata Indrawati.
Disebutkannya, program pembelajaran berbasis proyek sejalan dengan program Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta. Termasuk juga pengaplikasian pendidikan karakter dan menanamkan nilai-nilai kewirausahaan. “STEM ini mutlak membutuhkan komunikasi antara guru, orangtua dan siswa. Sehingga pada saat pendidikan jarak jauh (PJJ) ini bisa lebih fokus dan memaksimalkan kondisi di rumah. STEM ini juga mencakup pendidikan karakter. Mulai dari melatih kesabaran, disiplin, pengamatan, komunikasi, dan lainnya,” ujar Indrawati.
Sementara itu, Ketua APKS PGRI Provinsi Jawa Barat Dr H Agus Muharam M.Pd mengatakan, saat ini para guru memiliki tantangan yang lebih besar dalam melaksanakan PJJ. “Dituntut untuk lebih kreatif dengan memberikan pembelajaran yang lebih aplikatif,” kata Agus.
Seaqis, kata Agus, memiliki komitmen untuk pengembangan mutu pendidikan di Indonesia. Sementara di PGRI ada APKS untuk meningkatkan kompetensi dan mutu guru agar lebih profesional. “Untuk tahap awal, kerja sama ini dilakukan di Kabupaten Purwakarta, yakni untuk 20 guru TK/RA dan 20 guru SD/MI. Diharapkan, pelatihan pembelajaran berbasis STEM ini bisa lebih meningkatkan kualitas pendidik dan lebih mengembangkan sistem pembelajaran,” ucapnya.(add/sep)