Aksara Sunda dan Kalangan Milenial Purwakarta

AKSARA SUNDA: Gapura Indung Rahayu, gapura khas Purwakarta yang penulisannya juga terdapat Aksara Sunda. ADAM SUMARTO/PASUNDAN EKSPRES

Kritik Cara Penulisan, Guru Kaget dan Bangga

Cecep Hermawan kaget bercampur bangga saat salah seorang siswanya melaporkan adanya kesalahan penulisan aksara Sunda pada salah satu keterangan nama tempat di satu kawasan wisata Purwakarta.

LAPORAN: ADAM SUMARTO, Purwakarta

“Kaget bercampur bangga. Anak-anak sekarang kritis dan cerdas. Terlebih yang dikritiknya adalah cara penulisan Aksara Sunda. Ini boleh jadi penegas jika perkembangan Aksara Sunda di kalangan milenial Purwakarta sangat positif,” kata Cecep kepada Pasundan Ekspres saat dihubungi melalui gawainya, Senin (7/9).

Cecep yang kesehariannya berprofesi sebagai guru Basa Sunda di SMAN 1 Purwakarta ini menyebutkan, pembelajaran terkait Aksara Sunda sudah masuk ke dalam kurikulum SD, SMP, dan SMA.

“Kalau tahapnya pengenalan, maka ini sudah sangat cukup. Terlebih saat ini didukung ekstrakurikuler Basa Sunda dan munculnya komunitas-komunitas pegiat Basa Sunda, termasuk di dalamnya yang mempelajari Aksara Sunda,” kata Cecep.

Dia mengatakan, Aksara Sunda yang saat ini berkembang adalah Aksara Sunda Kaganga. Karena sudah masuk kurikulum, maka pelajar, remaja, atau kaum milenial Purwakarta sudah mengenal Aksara Sunda. Bahkan, sambungnya, beberapa di antaranya terampil menggunakan Basa Sunda dalam kesehariannya.

“Tak hanya pada kegiatan atau acara khusus saja, melainkan juga pada saat chatting, menulis cerita, membuat surat, dan lainnya, sudah menggunakan Aksara Sunda,” ujar Cecep.

Tak dipungkiri, serbuan budaya asing cukup berpengaruh pada kalangan milenial. Misalnya ada yang merasa bangga bisa menulis kanji/katakana (Aksara Jepang) atau hangeul (Aksara Korea).

“Ini hal positif, namun alangkah baiknya dibarengi dengan kebanggaan menulis Aksara Sunda,” ucapnya.

Senada disampaikan Guru Basa Sunda SMAN 2 Sukatani Prayoga Adi Wisastra. Dirinya menyebutkan dengan masuknya Aksara Sunda ke dalam kurikulum menjadikan kaum milenial mudah mengenalnya.

BACA JUGA:  Imbau Perusahaan Tertib Bayarkan Iuran, BPJAMSOSTEK Dukung Program Bantuan Subsidi Upah

“Bahkan saat ini sudah banyak aplikasi yang dibuat anak negeri terkait Aksara Sunda. Seperti keyboard Aksara Sunda hingga belajat online Aksara Sunda,” ujarnya saat dihubungi.

Adi yang juga tergabung dalam Sanggar Sastra Purwakarta ini menilai kalangan milenial sangat tertarik belajar Aksara Sunda. “Mereka antusias, bahkan menganggap belajar Aksara Sunda adalah satu hal yang dianggap keren. Di sini penyampaian materi Aksara Sunda di kelas haruslah tepat. Harus bisa memotivasi siswa agar tertarik mempelajari Aksara Sunda,” kata Adi.

Komunitas pun berperan penting menularkan ketertarikan mempelajari Aksara Sunda ke kalangan milenial. “Khusus di Purwakarta perkembangan Aksara Sunda di kalangan milenial sudah sangat positif. Namun harus terus dikembangkan lagi,” ucapnya.(add/ysp)