Bumdes Karya Gumilang Produksi Beras Organik

PADI ORGANIK: Petani yang sedang menyemprotkan pestisida non kimia di sawah organik di Desa Sindangsari Kecamatan Bojong. Permintaan beras organikpun mulai meningkat. DAYAT ISKANDAR/PASUNDAN EKSPRES

PURWAKARTA-Beras organik yang diproduksi Bumdes Karya Gumilang Desa Sindangsari Kecamatan Bojong akan segera masuki pasar lokal, menyusul meningkatnya permintaan pasar lokal bagi beras yang diproduksi di areal pertanian yang sepenuhnya menggunakan sistem organik.

Hal itu ditegaskan Kades Sindangsari Rahmat Efendi,Rabu(5/3) di areal pertanian organik yang dikelolanya dilahan sawah blok Babakan Cilandak seluas 8000 M2.

“Meski masih uji coba, bagi Bumdes Karya Gumilang, namun permintaan pasar mulai mmeningkat,” kata Rahmat Efendi.

Produksi beras yang berasal dari padi organik yang sepenuhnya dikelola secara organik dari mulai pemupukan, pembasmian hama dan penyakit semuanya non kimia,” tuturnya.

Disebutkanya, sejauh ini uji coba produksi beras organik di Desa Sindangsari cukup menjanjikan. Di mana dalam satu hektar mampu memproduksi gabah kering giling ,sebanyak 4- 5 ton/ha,” imbuhnya.

Saat ini harga beras organik dipasaran dijual dengan kisaran harga Rp 23.000/Kgnya dengan sasaran pasar kelas menengah atas.

“Jadi harganya memang menggiurkan bagi petani,hanya saja karena produksinya belum begitu banyak,dan masih uji coba,dilahan terbatas,kita belum bisa memenuhi pesanan pasar terutama dikota besar,seperti Jakarta atau Bandung.,kita baru jual dipasaran lokal Purwakarta.”Ungkap Kades Sindangsari itu.

Dalam uji coba padi organik ini beberapa varietas padi unggulan seperti Cisadane,Ciherang dan Rojolele,memang tumbuh baik. Bahkan karena pupuk organik dan pestisida organik juga mampu diolah serta di Produksi Bumdes, pihaknya akan tetap raih untung meski menjual beras organik di bawah harga pasar.

“Jadi kita bisa menjual beras organik Rp 19.000/kg sementara harga di pasaran Rp 23.000/kg. Persoalannya karena kita mampu memproduksi pupuk dan pestisida organik secara mandiri,” ujar Rahmatb Efendi.

Namun demikian,kendala seputar produksi dan pangsa pasar beras organik bukan berarti nihil. Dibutuhkan peran kooperatif warga tani dan perluasan areal pertanian serta jaringan pasar di kota besar untuk menuai break event point (BEP), dari modal yang akan alokasikan nanti.

BACA JUGA:  Rembug Tani Tentukan Jadwal Tanam

Rencananya BUMDs akan sewa lahan sawah lebih luas, sambil menarik kemungkinan bantuan dari Pemprov Jabar, dan mengurus izin dari Dinas terkait di Pemkab Purwakarta, yang nanti akan dicantumkan dikemasan paket beras organik itu.

“Untuk biaya produksi dengan kapasitas produksi padi 4-5 ton perhektar dibutuhkan dana sebesar Rp 17 juta,itu termasuk biaya olah lahan hingga pengemasan,” imbuhnya.

Nwmun,karena harganya cukup tinggi dibanding beras non organik kalangan masyarakat kelas menengah atas menjadi pangsa pasar,untuk menyentuh kelompok yang dimaksud,perlu ada kerjasama pemasaran,seperti dengan super market atau pasar modern lainya,dan untuk hal pengembangan ini,memang butuh waktu.”Tukas Rahmat Efendi.

Namun demikian rencana pengembangan beras organik itu akan terus digelorakan, hingga kelompok tani maupun pihak-pihak yang tertarik untuk berinvestasi, segera melirik target produksi beras Organik yang dikelola Bumdes Karya Gumilang.

Beras organik merupakan produk unggulan. Di mana dalam budidaya padi dilahan sawah itu sama sekali tidak menggunakan pupuk atau pestisida kimia. Bahkan pengairan untuk sawah padi organik ini langsung dialirkan dari Gunung Burangrang.(dyt/dan)