Cetak Pemain Sepakbola Bermental Juara, Climas FC Maksimalkan Bakat Anak

MENTAL JUARA: Jajaran pemilik, manajer, pelatih dan pemain SSB Climas FC saat berfoto bersama di sela latihan. SSB ini memiliki program khas membentuk skill dan mental juara. ADAM SUMARTO/PASUNDAN EKSPRES

PURWAKARTA-Climas FC menjadi salah satu sekolah sepak bola (SSB) yang paling direkomendasikan di Kabupaten Purwakarta. Betapa tidak, SSB yang bermarkas di Pasawahan ini memiliki program khas membentuk skill dan mental juara

Ahad (6/9) sore, di Lapangan Cihideung Pasawahan tampak puluhan anak melakukan pemanasan. Semuanya terlihat kompak mengikuti gerakan sang pelatih. Beres pemanasan dilanjutkan dengan program latihan utama. Mulai dari sprint, menggiring atau drible bola, hingga saling mengumpan.

Kemudian dibentuk dua grup untuk saling bertanding dan bersaing menceploskan bola ke gawang. Di sini terlihat skill dan fisik pemain yang dibentuk selama latihan. Dan yang utama adalah kerjasama dan kekompakan tim.

Kurang lebih seperti itulah menu latihan yang disuguhkan Climas FC. SSB yang memiliki sekretariat di Kampung Sawah Tengah, Desa Pasawahan Kidul, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta ini membina anak mulai usia 5 hingga 15 tahun. Adapun untuk dewasa, mulai usia 16 tahun ke atas.

“Kami menggelar latihan rutin di Lapangan Cihideung Pasawahan setiap Senin dan Kamis mulai pukul 15.00 WIB. Ini untuk menempa para pemain. Membentuk skill dan ketahanan fisik, membangun kerjasama tim hingga melahirkan pemain bermental juara,” ujar Pemilik SSB Climas FC Budi Rahmat Aliansyah saat ditemui di Sekretariat Climas FC, Ahad (6/9).

Disebutkannya, sekolah sepak bola berfungsi sebagai institusi yang bertujuan untuk mendeteksi, mengumpulkan, dan mendidik anak- anak yang memiliki bakat dalam bermain sepak bola.

“Saya bersama rekan saya Sutisna membentuk SSB Climas FC ini juga untuk menghasilkan pemain- pemain yang tangguh dan siap menghadapi persaingan di dunia sepak bola,” kata Budi menambahkan.

Dijelaskannya, SSB Climas FC membagi program latihan ke dalam empat fase sesuai dengan usia anak. Fase I, usia di bawah 8 tahun. Pada fase ini penting sekali jumlah sentuhan sebanyak-banyaknya pada bola untuk tiap-tiap pemain. Ini bertujuan agar individual skill pemain meningkat meskipun dengan sedikit arahan.

“Pada fase ini satu hal kecil namun sangat berpengaruh adalah untuk selalu menciptakan suasana gembira meski ada kendala sekalipun. Sehingga anak menikmati permainan sepakbola,” kata Budi.

Fase II usia 8-10 tahun atau fase pertama dari golden age. Di sini, anak sudah mulai memiliki idola sepak bola, haus akan skill yang imaginatif, sifat adventurer yang memang menjadi tipe mental kelompok usia ini dan selalu ingin meniru dan mengikuti tim yang sukses.

“Pada kelompok usia ini, anak sudah mempunyai mental dan koordinasi fisik yang baik. Para pemain sudah secara psikologi dapat menerima pendapat dan dapat menguasai teknik dengan mudah dan meniru idola mereka. Sehingga, meningkatkan kemampuan mereka meskipun mempunyai waktu belajar yang sedikit,” ujar Budi.

Fase III, anak usia 10-12 tahun atau fase kedua dari masa belajar golden age. Di fase ini, pemain muda yang berbakat membutuhkan suatu klub sepak bola untuk menjadi anggota. Atau bisa juga suatu diklat untuk meningkatkan skill individunya dan memperkenalkan padanya sepak bola yang kompetitif.

“Pada fase ini dibentuk latihan yang disederhanakan dan kompetisi dijalankan sebagai alat untuk mengembangkan skill teknik dan pengertian dasar teknik.
Bola harus jadi titik sentral dari aktivitas dengan banyak variasi dan kegembiraan,” ucap Budi.

Kemudian pada Fase IV untuk anakusia 12-14 tahun. Pada fase ini timbul perbedaan dalam proses perkembangan mental. Anak-anak mulai beranjak remaja dan berada pada macam-macamtingkat puber. Mereka mulai mempunyai perasaan memiliki, perasaan telah menghasilkan dan telah menyelesaikan sesuatu.

“Pada tingkat awal pengembangan kebebasan atau kedewasaannya, para pemain di usia ini telah menjadi kritis terhadap dirinya sendiri dan anak-anak yang tumbuh dewasa muali peka terhadap pujian, status dan pengakuan. Anak remaja tadi mulai memilih idolanya dan mulai meniru semua karakter positif maupun negatif,” ujarnya.

Namun, sambungnya, dengan metode latihan yang baik, yaitu menarik dan penuh tantangan, anak remaja tadi dapat mengatasi perubahan fisik akibat puber tadi dengan pengembangan situasi yang kritis. “Sehingga dapat menempatkan kepentingan tim di atas kepentingannya,” ucapnya.

Lebih lanjut Budi mengatatakan, SSB Climas FC memiliki dua orang manager, yakni Deni Supriadi dan Taopik Rachman. Untuk pelatihnya Riski Rossa dan Alif Bahriel, di mana keduanya adalah pelatih berlisensi.

SSB Climas FC juga memiliki catatan prestasi mumpuni. Di antaranya Juara 1 Divisi 1 Askab Purwakarta 2009, Juara 2 Open Turnamen Desa Sukajadi 2017, Juara 4 Piala Bupati Purwakarta 2019, Jaura 1 Piala Brother Cup 2020, Juara 1 2020 Anniversary SSB Climas FC 2020, dan Juara 2 Trofeo MUFC 2020.(add/ysp)