Cetak Pemain Sepakbola Bermental Juara, Climas FC Maksimalkan Bakat Anak

Fase II usia 8-10 tahun atau fase pertama dari golden age. Di sini, anak sudah mulai memiliki idola sepak bola, haus akan skill yang imaginatif, sifat adventurer yang memang menjadi tipe mental kelompok usia ini dan selalu ingin meniru dan mengikuti tim yang sukses.

“Pada kelompok usia ini, anak sudah mempunyai mental dan koordinasi fisik yang baik. Para pemain sudah secara psikologi dapat menerima pendapat dan dapat menguasai teknik dengan mudah dan meniru idola mereka. Sehingga, meningkatkan kemampuan mereka meskipun mempunyai waktu belajar yang sedikit,” ujar Budi.

Fase III, anak usia 10-12 tahun atau fase kedua dari masa belajar golden age. Di fase ini, pemain muda yang berbakat membutuhkan suatu klub sepak bola untuk menjadi anggota. Atau bisa juga suatu diklat untuk meningkatkan skill individunya dan memperkenalkan padanya sepak bola yang kompetitif.

BACA JUGA:  Disdamkar PB Distribusikan Air Bersih ke Tiga Kecamatan

“Pada fase ini dibentuk latihan yang disederhanakan dan kompetisi dijalankan sebagai alat untuk mengembangkan skill teknik dan pengertian dasar teknik.
Bola harus jadi titik sentral dari aktivitas dengan banyak variasi dan kegembiraan,” ucap Budi.

Kemudian pada Fase IV untuk anakusia 12-14 tahun. Pada fase ini timbul perbedaan dalam proses perkembangan mental. Anak-anak mulai beranjak remaja dan berada pada macam-macamtingkat puber. Mereka mulai mempunyai perasaan memiliki, perasaan telah menghasilkan dan telah menyelesaikan sesuatu.

“Pada tingkat awal pengembangan kebebasan atau kedewasaannya, para pemain di usia ini telah menjadi kritis terhadap dirinya sendiri dan anak-anak yang tumbuh dewasa muali peka terhadap pujian, status dan pengakuan. Anak remaja tadi mulai memilih idolanya dan mulai meniru semua karakter positif maupun negatif,” ujarnya.

BACA JUGA:  Dedi Mulyadi Sebut Prabowo Terlalu Percaya Diri

Namun, sambungnya, dengan metode latihan yang baik, yaitu menarik dan penuh tantangan, anak remaja tadi dapat mengatasi perubahan fisik akibat puber tadi dengan pengembangan situasi yang kritis. “Sehingga dapat menempatkan kepentingan tim di atas kepentingannya,” ucapnya.

Lebih lanjut Budi mengatatakan, SSB Climas FC memiliki dua orang manager, yakni Deni Supriadi dan Taopik Rachman. Untuk pelatihnya Riski Rossa dan Alif Bahriel, di mana keduanya adalah pelatih berlisensi.

SSB Climas FC juga memiliki catatan prestasi mumpuni. Di antaranya Juara 1 Divisi 1 Askab Purwakarta 2009, Juara 2 Open Turnamen Desa Sukajadi 2017, Juara 4 Piala Bupati Purwakarta 2019, Jaura 1 Piala Brother Cup 2020, Juara 1 2020 Anniversary SSB Climas FC 2020, dan Juara 2 Trofeo MUFC 2020.(add/ysp)

BACA JUGA:  Sanksi Hukum Bahaya Narkoba, Padukan Maulid Nabi dan Sosialisasi P4GN