Libur Sekolah, Guru Honorer Buka Usaha Tutut Kucrit

tutut kucrit
TUTUT KEKINIAN: Sri Ratnasari saat menunjukkan Tutut Kucrit, bisnis kuliner kekinian yang dia kembangkan bersama suaminya, Rabu (8/7). ADAM SUMARTO/PASUNDAN EKSPRES

Kaya Manfaat Dikemas Kekinian

Pandemi Covid-19 berdampak pada berbagai sendi kehidupan. Penerepan protokol kesehatan memaksa semua orang untuk lebih banyak beraktivitas di rumah. Pun halnya sengan social distancing, tak hanya bekerja, sekolah pun dilakukan secara daring dari rumah. Tak kehabisan akal untuk memenuhi kebutuhan sehari Guru honorer asal Purwakarta ini buka peluang usaha jualan tutut kucrit.

Laporan: ADAM SUMARTO, Purwakarta

Kondisi itu pula yang memaksa setiap orang untuk lebih kreatif, baik dalam mengisi waktu luang, hingga menambah penghasilan yang otomatis menurun drastis akibat pandemi tersebut.

Seperti yang ditunjukkan pasangan suami istri Asep Sandia Azhar dan Sri Ratnasari. Keduanya yang merupakan tenaga honorer di salah satu SMK di Purwakarta ini, memanfaatkan masa di rumah dengan membuka usaha.

“Berdiam diri di rumah tentu suatu hal yang membosankan, karena kegiatan belajar dipindahkan ke rumah sementara waktu Di samping tetap melakukan pembinaan kepada para siswa, kami juga berinisiatif membuka peluang usaha, yaitu dengan mengolah tutut ini,” ujar Sri Ratnasari di Plered, Rabu (8/7).

Tutut sendiri merupakan sebutan untuk keong sawah atau bernama latin Pila ampullacea. Dikenal kaya protein dan mengandung asam amino esensial dan mineral berupa kalsium.

Sri menyebutkan, tutut yang hendak diolah merupakan hasil tangkapan atau pencarian dirinya dan suami dengan menyusuri sungai atau area persawahan yang jaraknya tak jauh dari rumahnya.

“Setelah terkumpul, tutut kemudian dibersihkan dan direndam selama tiga hari agar bau amisnya hilang. Air rendamannya diganti secara berkala,” kata Ncie, panggilan akrabnya.

Setelah direndam, sambungnya, tutut kemudian direbus lalu ditambahkan bumbu racikannya sendiri. Di antaranya, kunyit, sereh, garam, dan penyedap serta beberapa rempah lainnya.

Ncie menambahkan, merebus tutut membutuhkan waktu cukup lama agar bumbunya meresap hingga ke bagian dalam. “Setelah matang, kemudian tutut dikemas ke dalam sebuah wadah yang sudah disiapkan,” ucap dia.

Ncie sengaja mengemas tutut buatannya ke dalam kemasan kekinian. Bahkan, dirinya pun memiliki merek dagang untuk tututnya itu, yakni Tutut Kucrit dengan logo yang menarik. Tutut Kucrit memiliki dua varian rasa, yaitu pedas dan original.

Untuk pemasarannya, Ncie mengaku memanfaatkan media sosial seperti facebook dan instragram. “Alhamdulilah sudah banyak yang pesan, satu cup saya jual Rp5.000, setiap hari tak kurang dari 50 cup saya jual,” ucapnya.(add/ysp)