Memaknai Semangat Amukti Palapa pada Harkitnas 2019

HARKITNAS: Dandim 0619/Purwakarta Letkol Arh Yogi Nugroho saat menjadi Inspektur Upacara Hari Kebangkitan Nasional yang digelar di Alun-alun Pajajaran Pemda Purwakarta, Senin (20/5). ADAM SUMARTO/PASUNDAN EKSPRES

PURWAKARTA-Amukti Palapa atau juga dikenal Sumpah Palapa adalah adalah suatu pernyataan/sumpah yang dikemukakan oleh Gajah Mada pada upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit, tahun 1258. Di mana sang Mahapatih bersumpah tidak akan melepaskan puasanya sebelum mempersatukan nusantara. Bisa diartikan, makna yang tersirat dari sumpah tersebut adalah semangat persatuan dan kesatuan.
Semangat itu pula yang disampaikan Dandim 0619/Purwakarta Letkol Arh Yogi Nugroho saat menjadi Inspektur Upacara Hari Kebangkitan Nasional yang digelar di Alun-alun Pajajaran Pemda Purwakarta, Senin (20/5).

“Ada banyak versi tafsiran tentang apa yang dimaksud dengan Amukti Palapa. Namun, meski sampai saat ini masih belum diperoleh pengetahuan yang pasti, umumnya para ahli sepakat bahwa amukti palapa berarti sesuatu yang berkaitan dengan laku prihatin sang Mahapatih Gajah Mada,” kata Dandim.

Artinya, sambung Dandim, Gajah Mada tak akan menghentikan mati raga atau puasanya sebelum mempersatukan Nusantara. “Sumpah Palapa tersebut merupakan embrio paling kuat bagi janin persatuan Indonesia. Wilayah Nusantara yang disatukan oleh Gajah Mada telah menjadi acuan bagi perjuangan berat para pahlawan nasional untuk mengikat wilayah Indonesia seperti yang secara de jure terwujud dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia saat ini,” ucapnya.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang ke-111, 20 Mei 2019, kali ini, kata Dandim, sangat relevan jika dimaknai dengan teks Sumpah Palapa tersebut. “Kita berada dalam situasi pasca-pesta demokrasi yang menguras energi dan emosi sebagian besar masyarakat kita. Kita mengaspirasikan pilihan yang berbeda-beda dalam pemilu, namun semua pilihan pasti kita niatkan untuk kebaikan bangsa. Oleh sebab itu tak ada maslahatnya jika dipertajam dan justru mengoyak persatuan sosial kita,” kata Dandim.

Sampai sekarang ini, sambung Dandim, tahap-tahap pemilihan presiden dan wakil presiden serta anggota legislatif berlangsung dengan lancar. “Kelancaran ini juga berkat pengorbanan banyak saudara-saudara kita yang menjadi anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara, bahkan berupa pengorbanan nyawa,” ujarnya.

BACA JUGA:  Bangkit untuk Bersatu Wujudkan Subang Jawara

Dijelaskannya, telah lebih satu abad bangsa ini menorehkan catatan penghormatan dan penghargaan atas kemajemukan bangsa yang ditandai dengan berdirinya organisasi Boedi Oetomo.

“Dalam kondisi kemajemukan bahasa, suku, agama, kebudayaan, ditingkah bentang geografis yang merupakan salah satu yang paling ekstrem di dunia, kita membuktikan bahwa mampu menjaga persatuan sampai detik ini,” katanya.

Lebih lanjut Dandim menyebutkan, peringatan Hari Kebangkitan Nasional kali ini juga dilangsungkan dalam suasana bulan Ramadhan.

“Bagi umat muslim, bulan suci ini menuntun kita untuk mengejar pahala dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dibenci Allah SWT seperti permusuhan dan kebencian, apalagi penyebaran kebohongan dan fitnah,” ucapnya.(add/vry)