Menaruh Asa Jualan Nasi Uduk, Suropah harus Biayai Pengobatan Tiga Keluarganya yang Sakit

PURWAKARTA-Tepat jam 9 malam, Suropah (45) warga Gang Aster 3 RR 14 RW 02 Kecamatan Purwakarta, mulai menggelar gerobak nasi uduk. Ia menaruh asa dari keuntungan berjualan nasi uduknya, untuk membiayai tiga anggota keluarganya yang sakit.

Diantara beban yang harus ditanggung Suropah adalah Hidayat (50) sang suami yang kesehariannya sibuk menjadi seorang imam Masjid, dituturkan Suropah dengan santun bercerita bahwa suaminya itu mengalami sakit kelenjar leher. Sejak di vonis oleh rumah sakit Hasan Sadikin Bandung, Suropah dihadapkan beberapa pilihan medis oleh dokter. “Kata dokter, suami saya harus dioperasi agar sakit kelenjar lehernya sembuh, tapi itu bukan pilihan. Kata dokter pisik suami saya tidak akan kuat (bertahan hidup) jika harus menjalani operasi. Dan biayanya sangat besar, dan juga bukan pilihan kami, sebab kami tidak mampu membayar biaya operasi,” tutur Suropah bercerita dengan tenang.

Kedua, usai dibuat tak berdaya saat bercerita pembiayaan sakit sang suami, Suropah juga harus dihadapkan situasi sulit serupa dengan waktu yang bersamaan. Pasalnya, Mujofar gadis mungil anak ketiga nya yang kini berusia 6 tahun, juga harus merasakan sakit gagal ginjal atau pungsi ginjal yang tidak normal. “Sejak lahir Mujofar sehat dan tumbuh dengan normal. Hingga usianya masuk jelang tahun ke dua, tiba tiba mujofar mengalami berat badan berlebih. Kemudian kedua bola matanya membiru, dibarengi perut yang membuncit. Saat diperiksa ke Dokter, kata Dokter anak saya Mujofar ginjalnya bocor,” tutur Suropah seraya mengatakan bahwa mungkin dirinya dan keluarganya sedang diuji oleh sang kholik.

Beruntung anak perempuannya yang kedua hidup sehat dan normal, dengan keuntungan berjualan nasi uduk. Suropah masih mampu membiayai anak keduanya bersekolah dan kini masuk jenjang sekolah SLTA di salah satu sekolah negeri di Purwakarta.

BACA JUGA:  Remisi Idul Fitri, 304 Warga Binaan Lapas Kelas IIB Purwakarta Dapat Remisi

Namun, ujian Suropah masih ada. Asep (nama samaran) anak sulung lelaki pertamanya, juga harus menjalani hidup dengan pisik kurang baik. Asep harus menahan sakit dan gemetar pada salah satu jari jari tangan kanannya, kondisi itu bermula saat Asep duduk dibangku sekolah SMK. “Waktu itu Asep pulang sekolah naik angkot, dan ditengah jalan dicegat siswa sekolah lain. Dalam aksi tawuran waktu itu, Asep pulang ke rumah dengan kondisi tangan berdarah. Dan sampai hari ini kondisi tangan nya tidak normal, mungkin gara-gara tawuran itu ada salah satu urat syaraf yang terputus,” lanjut Suropah seraya memberi alasan jika meski telah lulus dan memiliki ijazah SLTA. Asep tidak mungkin dan diterima bekerja sebagai buruh pabrik sekalipun dan kini hanya membantu Suropah berjualan nasi uduk.

Sebuah rumah berdempetan dengan masjid tempat Hidayat aktif sebagai imam masjid, Suropah tinggal bersama keluarganya disalah satu rumah milik warga yang secara cuma-cuma memberikan kepada Suropah untung ditinggali. Memulai hidup dan merantau dari Tasik kota asal kelahiran sejak 2008 silam, Suropah dan sang suami mengaku telah berdomisili dan memiliki KTP juga Kartu Keluarga sebagai warga Purwakarta.

Namun ujian itu diceritakan Suropah, bermula sejak 2016 silam saat Dodo nama sapaan akrab Mujofar lahir. Nama Dodo waktu itu disematkan karena perawakan Dodo yang gemuk dan riang, namun hal itu berubah drastis.

Dibawah kaki meja gerobak tempat Suropah menjajakan nasi uduk, Dodo terlihat tergeletak terlentang tertidur pulas, dan perut buncit itu nampak jelas memunjul diatas trotoar yang dingin. “Kami pasrah, kami ikhlas, mungkin ini ujian dari Allah SWT kepada kami. Kami hanya berdoa agar semua ini bisa segera kami lalui dengan iman dan tawakal,” ucapnya.

BACA JUGA:  BPJS Ketenagakerjaan Bakal Gelar Anugerah Paritrana 2018

Ditanya apa keinginan Suropah, dirinya hanya berharap selain Tuhan segera memberikan kesehatan pada keluarganya. Suropah berharap bisa berjualan disiang hari agar tidak harus membawa putri kecilnya keluar dimalam hari. “Ya saya terpaksa berjualan malam hari, selain harus menunggu toko tutup agar bisa menyimpan gerobak. Harus berjualan dimana lagi, jangankan sewa toko, alhamdillah rumah tinggal kami tidak harus bayar sebab sang suami bisa mengurus masjid,” pungkasnya.(mas/sep)