Pengalaman Peer Teaching Keterampilan Dasar Mengajar

Oleh: Rindiyani

Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Dr KHEZ Muttaqien Purwakarta

Pendidikan merupakan salah saru cara manusia mendapatkan ilmu pengetahuan. pendidikan juga dapat dikatakan sebagai proses manusia menjadi manusia yang terdidik. Yang dimaksud terdidik ialah manusia yang selain memiliki ilmu pengetahuan, memiliki keterampilan, dapat mengembangkan pontensi dirinya, serta mampu mencerminkan kepribadian yang baik. Maka, dalam konteks pembelajaran, pendidikan ialah suatu usaha pendidik dalam mendidik peserta didiknya, agar selain mendapatkan pengajaran juga mempunyai nilai-nilai moral diharapkan. Cara yang ditempuh oleh pendidik terhadap peserta didik biasanya berupa kegiatan belajar mengajar.

Hal tersebut senada dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional yang mengatakan bahwa :

“Pendidikan ialah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukann dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.”
Menurut Nurkholis (2013:2) “Pendidikan lebih dari sekedar pengajaran, yang dapat dikatakan sebagai suatu proses transfer ilmu, transformasi nilai, dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya.”

Selain itu, proses belajar dapat disebut sebagai pengalaman. Karena kegiatan belajar mengajar yang dialami baik oleh pendidik maupun peserta didik. Yakni dengan mendengarkan pendidik dalam menyampaikan materi pembelajaran, merasakan suasana kegiatan pembelajaran, serta interaksi antara pendidik dan peserta didik.

Proses pendidikan tentunya tidak lepas dari beberapa komponen, yakni : pendidik, peserta didik, bahan ajar, metode, teknik, strategi, serta media pembelajaran. Tujuan pendidikan akan tercapai apabila semua komponen tersebut dapat berjalan dengan baik. Faktor yang paling utama dalam sebuah proses pendidikan ialah peran seorang pendidik. Maka dari itu, untuk menjadi seorang pendidik yang berkualitas serta profesional, perlunya mempelajari beberapa hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran.

(saat, 2015) Guru merupakan pendidik professional. Sebagai pendidik professional, guru harus memenuhi beberapa syarat, yaitu bertakwa kepada Allah, berilmu, sehat jasmaniahnya, baik akhlaknya, bertanggung jawab,dan berjiwa nasional.

(2010, hal. 8) Profesi guru memiliki tugas melayani masyarakat dalam bidang pendidikan. Guru yang dikatakan profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.

Tentu saja, yang dimaksud tanggung jawab ialah seorang guru mesti mempersiapkan apa saja harus dikerjakan sebelum pembelajaran dimulai, membimbing peserta didik, memberikan penilaian, serta mengevaluasi pembelajaran. Selain itu, media yang tepat digunakan, serta bahan ajar yang tepat. Artinya, pendidik mampu bertanggung jawab terhadap tujan pendidikan yang hendak dicapai. Oleh karena itu, dalam mata kuliah Micro Teaching yang diampu oleh bapak dosen dede supendi, penulis merasakan proses menjadi calon pendidik yang berkualitas serta profesional.

Dalam proses pembelajaran selain hal diatas yang mesti dipahami. Ada beberapa keterampilan dasar dalam mengajar. Diantaranya : keterampilan membuka pembelajaran, keterampilan menjelaskan pelajaran, keterampilan membimbing kelompok kecil, keterampilan menggunakan variasi, keterampilan bertanya, keterampilan menggunakan media pembelajaran, keterampilan mengelola kelas, keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan, keterampilan mengajar memberikan penguat, serta keterampilan menutup pelajaran.

Pada mata kuliah micro teaching ini, mahasiswa sebelum mengajar dalam ruangan kelas, dilatih lebih dulu mengajar yang dikenal dengan istilah peer Teaching. Peer Teaching ini merupakan metode pembelajaran antar teman sebaya ( tutor sebaya). Artinya, dalam menjelaskan materi pembelajaran serta menerima materi pembelajaran ialah teman sendiri. Dalam peer teaching ini penulis dapat merasakan menjadi sebagai guru serta sebagai peserta didik.

Menurut Edward L. Dejnozken dan David E.Kopel dalam American Education Encyclopedia ( Yopi Nisa Febrianti : 2014 : 81 ) menyebutkan pengertian tutor sebaya adalah sebagai berikut:“Tutor sebaya adalah sebuah prosedur siswa mengajar siswa
lainnya. Tipe pertama adalah pengajar dan pembelajar dari usia yang sama. Tipe kedua adalah pengajar yang lebih tua usianya dari pembelajar. Tipe yang lain kadang dimunculkan pertukaran usia pengajar” . Adapun menurut Aswan (2016:28) “Peer Teaching merupakan latihan mengajar yang dilakukan oleh siswa kepada calon guru.”

Pada Peer Teaching kali ini, penulis belajar memahami beberapa keterampilan dasar dalam mengajar. Keterampilan yang pertama harus dikuasai ialah keterampilan membuka pelajaran. Sebelumnya, penulis hanya mengetahui ketika membuka pelajaran maka hanya ada komponen mengucapkan salam, berdo’a, serta menanyakan kondisi atau kabar peserta didik. Namun, setelah adanya peer teaching ini, penulis mulai memahami bahwa ada komponen lain yang mesti juga dipahami oleh seorang calon pendidik. Menurut penulis, keterampilan membuka pelajaran merupakan kalimat awal (pembuka) yang disampaikan seorang guru sebelum pembelajaran dimulai. Selanjutnya menurut Dadang Sukirman (2012:53) “Adapun tujuan yang utama dari kegiatan membuka pembelajaran, apapun jenis kegiatan yang dilakukan oleh guru harus ditujukan pada upaya menciptakan kondisi siap belajar (pra-pembelajaran)”.

Namun, selebihnya keterampilan membuka pelajaran menurut Helmiati (2013:43) “bahwa Membuka pembelajaran adalah kegiatan guru dalam mengawali proses pembelajaran untuk menciptakan suasana siap mental, phisik, phisikis dan emosional siswa sehingga memusatkan perhatian mereka pada materi dan kegiatan pembelajaran yang akan dilalui.”
Maka, dalam hal ini tentunya penulis sebagai calon guru mesti dapat menciptakan suasana siap mental, phisik, phisikis dan emosional siswa. Selain, itu ada beberapa komponen yang mesti dilaksanakan pada keterampilan membuka pelajaran. Akan tetapi menurut pendapat Mansyur (2017:138) ialah :

“Inti persoalan membuka pelajaran terkait dengan usaha guru dalam menarik perhatian siswa, memotivasi, memberi acuan tentang rujukan, pokok persoalan yang akan dibahas, rencana kerja serta pembagian waktu, dan mengaitkan pelajaran yang telah dipelajari dengan pelajaran baru. Menyiapkan mental murid agar mereka siap memasuki persoalan yang akan dibicarakan, dan membangkitkan minat dan perhatian siswa yang akan dibicarakan dalam kegiatan belajar mengajar.”

Pada peer teaching yang telah dilakukan minggu lalu, penulis mencoba untuk menerapkan hal tersebut dengan cara memusatkan perhatian siswa mengenai kesiapannya dalam belajar, berdo’a sebelum pembelajaran dimulai, menanyakan kehadiran siswa, memberikan acuan, mengaitkan materi pelajaran yang akan dipelajari dengan pelajaran baru, memberikan motivasi terkait pentingnya mempelajari materi yang akan dipelajari, menyampaikan tema pelajaran yang akan dipelajari, serta menyampaikan beberapa kompetensi dasar dan indikator yang harus dicapai, kemudian menyampaikan tujuan dari pembelajaran tersebut.

Kemudian, dalam tahap keterampilan membuka pelajaran, penulis menggunakan intonasi yang berubah-ubah, baik dalam menanyakan kabar peserta didik maupun dalam memberikan motivasi, serta sambil memposisikan diri. Artinya, tidak diam disatu tempat.
Dalam peer teaching minggu lalu, penulis menyampaikan materi terkait hukum tajwid yaitu mengenai hukum pembagian Mad. Sehingga, motivasi yang diberikan penulis ialah hadist mengenai pentingnya membaca Al-qur’an menggunakan Hukum Tajwid.

Namun sebetulnya, ada beberapa point yang terkandung dalam beberapa komponen keterampilan membuka pelajaran. Hal tersebut menurut Ainur Rosyid (2015:45) ialah :
1. menarik perhatian siswa, kesanggupan untuk memusatkan seluruh aktifitas siswa agar tertuju pada kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan. upaya untuk mengkondisikan perhatian siswa …… ialah :

Gaya Mengajar guru, misalnya memvariasikan suara, posisi guru, gerak tubuh, dan penampilan lain yang sesuai dengan tuntutan sebagai pendidik.
Menggunakan multi metoda, media dan sumber pembelajaran.
Pola interaksi pembelajaran yang bervariasi.
Tempat belajar.

Selanjutnya, ialah keterampilan menjelaskan. Keterampilan mejelaskan merupakan keterampilan dasar mengajar yang dapat dibilang sebagai pokoknya kegiatan pembelajaran, karena pada keterampilan pembelajaran ini, pendidik menjelaskan materi pelajaran dengan bahan ajar yang tepat.

Pada keterampilan menjelaskan ini, penulis melakukan beberapa komponen yang terdapat dalam lembar observasi diantaranya ialah :menggunakan gaya dan gerakan mengajar yang bervariasi, dalam hal ini penulis melakukan interaksi tanya jawab dengan peserta didik; intonasi yang digunakan penulis pun bervariasi, misalnya dari intonasi yang rendah sampai intonasi yang tinggi ketika peserta didik kurang fokus dalam memperhatikan penulis saat menjelaskan; melayangkan pandangan kepada peserta didik, misalnya dengan interaksi tanya jawab individual maupun kelompok kepada peserta didik; menjelaskan materi pelajaran dengan menggunakan beberapa media pembelajaran.

Menurut Mukminan (2013:11) “keterampilan menjelaskan dapat diartikan sebagai keterampilan memberikan pengertian berupa penyajian informasi lisan yang diorganisasi secara sistematis kepada pese(a didik, sehingga informasi atau pesan-pesan pembelajaran baik berupa fakta, konsep, prinsip, ataLlpun prosedurdapat dipahami oleh peserta didik dengan baik.”

Selain itu, pada keterampilan menjelaskan, penulis juga menggunakan beberapa metode pembelajaran. Diantaranya metode ceramah, diskusi, eksperimen,serta bertanya. Kemudian tujuan metode diskusi menurut (Killen, 1998) dalam Aswan (2016:32) ialah memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami suatu permasalahan serta membuat keputusan.”

Beberapa metode pembelajaran yang digunakan penulis, metode ceramah serta diskusi merupakan salah satu metode yang dapat dikatakan tepat pada materi pembelajaran yang dipilih penulis. Karena dalam materi pembelajaran yang dipilih tersebut, kompetensi dasar serta indikatornya ialah dapat mengidentifikasi hukum bacaan mad, serta mampu untuk mempraktekkan hukum bacaan mad tersebut. Setelah memilih metode yang tepat, penulis kemudian membagi peserta didik kedalam dua kelompok. Yang masing-masing kelompok terdiri dari 2 orang. Tentunya kelompok tersebut dibimbing oleh penulis, diantaranya yaitu dengan Menjelaskan langkah-langkah diskusi; Memusatkan perhatian peserta didik pada tujuan dan tema diskusi; Memperluas masalah atau urunan pendapat, misalnya apabila ada pertanyaan ataupun jawaban yang melenceng maupun kurang jelas maka penulis sebagai pemimpin diskusi juga sebagai guru meluruskannya; Menganalisis pandangan peserta didik; Meningkatkan urunan pikir peserta didik; Memotivasi peserta didik untuk terlibat aktif; Memberi dukungan penguatan ; serta membuat kesimpulan penutup diskusi.
Dalam (Zulfanidar, 2016) Menurut Sanjaya ( 2006 : 157 ) mengatakan bahwa “diskusi kelompok kecil dilakukan dengan membagikan siswa dalam kelompok-kelompok.

Jumlah antara kelompok 3-5 orang pelaksanaannya dilakukan dengan guru menyajikan permasalahan secara umum, kemudian masalah tersebut dibagi-bagi kedalam sub masalah yang harus dipecahkan oleh setiap kelompok kecil. Setelah diskusi dalam kelompok kecil ketua kelompok menyajikan hasil diskusinya”.

Dilihat dari metode pembelajaran yang digunakan penulis tersebut, bermacam-macam, maka dapat dikatakan penulis pun telah menggunakan keterampilan variasi. Yakni keterampilan yang mesti seorang guru pahami dalam kegiatan mengajar.

Komponen yang dilakukan penulis diantarnya ialah : Menggunakan variasi intonasi; Menggunakan variasi pola interaksi, yaitu dengan pola bertanya siswa kepada pendidik, maupun siswa kepada siswa; Menggunakan alat bantu. Kemudian, Salah satunya ialah menggunakan metode, maupun strategi pembelajaran yang digunakan mesti beragam namun dengan catatan harus tepat. Menurut Syarifah Farahdiba,dkk (2017:232) Djamarah (2005:126-127) “mengatakan variasi pada dasarnya meliputi variasi suara, variasi gerakan anggota badan, dan variasi perpindahan posisi guru dalam kelas. Dari siswa, variasi tersebut dilihatnya sebagai sesuatu yang energi, antusias, bersemangat dan memiliki relevansi dengan hasil belajar.”

Selain itu, dalam menyampaikan materi pelajaran, penulis menggunakan media pembelajaran yang bervariasi, yakni dengan menggunakan buku juz ‘amma, kertas undian soal, serta power point. Maka, dalam hal tersebut penulis tentunya memilih kriteri media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Seperti yang telah dituliskan oleh Sungkono (2008:73) “….yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media yaitu tujuan pembelajaran, kefektifan, peserta didik, ketersediaan, kualitas teknis, biaya, fleksibilitas, dan kemampuan orang yang menggunakannya secara alokasi waktu yang tersedia.”

Namun, pada saat kegiatan menjelaskan ataupun diskusi sedang berlangsung, nyatanya masih ada peserta didik yang mengobrol serta tidak memperhatikan materi yang disampaikan. Oleh karena itu, penulis menegur peserta didik tersebut, agar kembali fokus dalam memperhatikan materi pelajaran yang disampaikan. Tujuannya supaya pembelajaran berjalan dengan kondusif dan efisien. Adapun hal yang
Dengan demikian, hal tersebut merupakan keterampilan dalam mengelola kelas. Hal tersebut senada dengan (kadir, 2014) “pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi pembelajaran yang kondusif….”

Selanjutnya, keterampilan dasar mengajar pun tidak lepas dari keterampilan mengajar kelompok / perorangan. Dalam hal tersebut, penulis menggunakan metode diskusi.

Namun, sebelumnya penulis mengarahkan tugas yang mesti dijawab oleh perkelompok, kemudian mendorong peserta didik untuk menyelesaikan tugasnya; mengenal peserta didik secara individu, artinya setiap peserta didik pasti mempunyai beberapa karakter yang berbeda, ada yang kecerdasannya dibawah rata-rata maupun sebaliknya, maka penulis sebagai seorang guru memberikan bimbingan terhadap peserta didik yang masih kurang dalam memahami materi; kemudian mengembangkan bahan ajar mandiri, artinya peserta didik disilahkan untuk menyampaikan hasil dari diskusi kelompok masing-masing didepan temannya.

Kemudian, selain itu, memberikan penguatan dalam proses pembelajaran ini sangatlah penting. Agar peserta didik dapat termotivasi untuk melakukan kembali. Misalnya, ketika peserta didik menjawab pertanyaan dengan benar, maka seorang guru perlu memberikan apresiasi baik berupa verbal kata. Contohnya “bagus nak, kamu hebat”; atau memberikan gerakan fisik, seperti menepuk bahunya.

Dalam proses pembelajaran tentunya ada unsur pembuka, maka adapula unsur penutup. Yakni keterampilan menutup pembelajaran. Keterampilan menutup merupakan keterampilan pamungkas dalam sebuah pembelajaran. Dalam keterampilan menutup pembelajaran tersebut, penulis melakukan kegiatan penilaian. Misalnya tanya jawab secara langsung kepada peserta didik; membuat resume dari materi pelajaran yang disampaikan; memberikan tugas kepada peserta didik, agar kemampuan berfikirnya meningkat yakni dengan menantang pikirnya peserta didik, misalnya tugas mengenai
analisis suatu kejadian; memberikan apresiasi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan; serta menutup do’a.

Pada intinya, keterampilan dasar mengajar ini perlu dipelajari bahkan diimplementasikan oleh calon pendidik, maupun seorang pendidik sebelum mengajar yang nyata kepada peserta didik. Keterampilan dasar mengajar ini, sangatlah berkaitan satu sama lain. Maka dari itu, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal maka diperlukan pendidik yang berkompeten serta profesional.