Petani Keluhkan Harga Jual Gabah, Limbah Perumahan Cemari Sawah

AYEUH: Kondisi padi yang kena ‘Ayeuh’ akibat bencana hujan dan angin. MALDIANSYAH/PASUNDAN EKSPRES

PURWAKARTA-Petani Padi di Desa Benteng Kecamatan Campaka, mulai memasuki masa panen, di tengah terpaan musibah Corona. Empat kelompok tani (Poktan) di wilayah tersebut, meminta pemerintah juga mengalihkan perhatian kepada petani khususnya harga jual gabah.

Minimnya harga beli dari pemerintah dalam hal ini Bulog, membuat petani menjual hasil gabah keringnya ke tengkulak yang berani membeli lebih mahal. Kondisi tersebut diakui sejumlah petani dilema. Pasalnya, pemerintah atau Bulog sebagai perwakilan pemerintah dianggap sudah banyak membantu selama proses tanam hingga memasuki masa panen.

“Kami akui, Bulog banyak membantu petani. Mulai dari bantuan bibit , penyuluhan hingga obat hama yang sudah diterima dan digunakan oleh petani. Meski demikian, petani berharap harga beli Bulog bisa mengimbangi harga beli tengkulak,” ungkap Holim ketua Poktan Sumber Sari diwawancara di lokasi panen.

Sedikitnya ada empat Poktan di blok seluas 150 Hektar ini. Antara lain, Poktan Sumber Sari, Poktan Sindang Sari, Poktan Harapan dan Poktan Sindang Tani.

Selain mengeluhkan minimnya harga beli Bulog dibawah Tengkulak. Sejumlah petani juga mengeluhkan adanya bencana hujan dan angin, yang menyapu batang padi sesaat akan panen atau biasa disebut ‘Ayeuh’ oleh sejumlah petani. “Namanya Ayeuh atau roboh, atas kondisi padi yang kena Ayeuh hasilnya turun 30 persen. Sebab, buah padi yang menempel di tanah akan busuk sehingga tidak bisa dijual,” terangnya.

Selanjutnya, problem lain yang dikeluhkan petani adalah menumpuknya sampah rumahan yang masuk ke areal pesawahan di saat hujan deras, juga menjadi problem tersendiri buat petani di wilayah ini. “Dulu sewaktu belum banyak perumahan tidak ada sampah masuk ke areal sawah. Limbah pampers banyak menempel di buah padi kami. Untuk itu kami harap pengelola perumahan dan pemerintah bisa membangun saringan di aliran pembuangan, sehingga kami tidak direpotkan dengan harus memungut dan mengumpulkan limbah tersebut,” harap Arja (50) salah satu petani padi di lokasi.(mas/vry)