Serunya Seserahan Pengantin di Kecamatan Sukasari, Naik Perahu Tongkang Hias, Seluruh Barang dan Keluarga Harus Tertampung

SESERAHAN: Proses seserahan menggunakan perahu tongkang menjadi ciri khas di beberapa desa di Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta.  ADAM SUMARTO/PASUNDAN EKSPRES

Seserahan hantaran pengantin atau mahar merupakan ciri khas pernikahan di Indonesia. Seserahan bisa dimaknai bahwa calon pengantin pria telah mampu memberikan nafkah lahir batin kepada calon pengantin wanita

LAPORAN: ADAM SUMARTO, Sukasari-Purwakarta

Matahari baru saja menyapa. Hangatnya terasa ringan bercampur kesejukan udara di Kampung Cilipa, Desa Sukasari, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta.

Ahad (14/6) pagi, cuaca di kampung itu memang tampak cerah. Secerah hati Hendi (26), warga setempat yang hendak meminang tambatan hatinya, Nuraeni Selviani (21).

Calon pengantin wanitanya ini berada di Desa tetangga, yakni di Kampung Sukamulya, Desa Ciririp, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta.

Maka, pagi yang cerah itu adalah pagi yang cukup ‘menyibukkan’ bagi calon pengantin pria dan keluarganya. Betapa tidak, selain harus berdandan dan tampil sesempurna mungkin, mereka juga harus membawa seabrek seserahan untuk calon pengantin wanita.

Selain mas kawin sebagai seserahan utama, juga ada seperangkat alat salat, hantaran buah-buahan, sepatu, tas, peralatan make up, hingga yang berukuran jumbo seperti kasur dan lemari.

Dan yang lebih bikin ribet sekaligus seru, seluruh anggota keluarga plus seabrek seserahan tadi harus tertampung di atas perahu tongkang yang sudah dihias terlebih dahulu. Wow, inilah yang khas dari daerah paling ujung Kabupaten Purwakarta itu.

Sesepuh setempat Mochamad Aripin menyebutkan, pemandangan proses seserahan menggunakan perahu tongkang di Kabupaten Purwakarta boleh jadi hanya ada di Kecamatan Sukasari.

“Ini memang khas warga di sini. Riweuh (ribet) tapi rame (seru). Semua tampak sangat bahagia, terlebih saat proses penyambutan oleh pihak keluarga pengantin wanita,” kata Mochamad Aripin saat dihubungi, Ahad (14/6) siang.

Disebutkannya, perahu memang menjadi salah satu alat transportasi utama dari satu desa ke desa lainnya di Kecamatan Sukasari. Pun halnya saat ngabesan atau proses datangnya rombongan calon pengantin pria. Perahunya dirangkai dengan semacam tongkang kecil dan dihias.

BACA JUGA:  Pemdes Tanggulun Timur Isbat Nikah Massal

“Semua anggota keluarga calon pengantin pria harus tertampung berikut seserahannya. Karena itu pula semua hal harus diperhatikan, termasuk dari sisi keamanannya,” ujarnya.

Bagi kebanyakan orang yang melihat, sambungnya, boleh saja berpendapat miring, berisiko, ribet, dan lainnya. “Tapi bagi warga di sini adalah suatu tradisi yang harus dilestarikan secara turun temurun,” ucapnya.

Usai 30 menit perjalanan yang cukup santai dan udara Danau Jatiluhur yang sepoi-sepoi, akhirnya rombongan pengantin pria tiba di kampung pengantin wanita. Secara estafet, seserahan dipindahkan dari tangan ke tangan, hingga seluruhnya sudah diserahkan kepada keluarga pengantin wanita.

Usai pidato sambutan dari kedua pihak keluarga, akad nikah pun dilaksanakan penuh khidmat. Maka Nuraeni dan Hendi pun kini sah menjadi pasangan suami istri.(*/vry)