Siswa Pelajari Cara Membuat Membuat Keramik

MEMBUAT KRAMIK: Kepala UPTD Litbang Kramik,Bambang Mega Wahyu,sedang memberikan pengetahuan teknik membuat kramik, didepan para siswa SMPb Mutiara Islami Cikarang, Rabu (7/11). DAYAT ISKANDAR/PASUNDAN EKSPRES

PURWAKARTA-Unit Pelayanan Teknik Dinas Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kramik Plered yang bernaung dibawah,Dinas Perindustrian,perdagangan dan Koperasi(Indagkop) Pemkab Purwakarta, kini terus dibanjiri para siswa dan siswi dari berbagai daerah,terutama kawasan Perkotaan.

Kedatangan mereka,tak lepas dari wisata edukasia,dimana para siswa selain diberi pengetahuan banyak tentang,pengolahan tanah liat,mereka juga diberi kesempatan membuat langsung kramik dari bahan baku tanah liat,dengan menggunakan alat tradisional yang biasa digunakan para pengrajin kramik Plered.

Dalam tiga hari terakhir tak kurang empat sekolah Menengah Pertama,dari Cikarang,Bekasi,dan Purwakarta datang ke UPTD Litbang Kramik Plered,dengan didampingi para guru mereka.

Kepala UPTD Litbang Kramik Plered Bambang Mega wahyu ST, Rabu (7/11) disela penerimaan kunjungan wisata edukasia dari ratusan siswa dan siswi SMP Mutiara Islami Cikarang, menyebut keunikan dan sistem tradisional pembuatan Kramik Plered, yang tetap dipertahankan hingga kini sejak puluhan tahun silam, telah menyedot rasa penasaran para siswa dari berbagai tingkatan sekolah,terutama yang tinggal dikawasan perkotaan,seperti Cikarang,Bekasi,dan Jakarta serta Bandung.”Terangnya.

“Mereka,datang secara berombongan dengan tim guru dan Kasek sekolah masing masing, bahkan adakalanya selain belajar membuat kramik mereka juga ingin merasakan kuliner khas Plered, yakni Sate Maranggi,” imbuhnya.

Saat merefresntasikan metoda pembelajaran praktik pembuatan kramik, Bambang Mega wahyu dengan rinci menerangkan proses pembuatan kramik dengan bahan baku tanah liat.

Seni membentuk tanah liat, dengan proses pengeringan hingga kemudian dibakar,oleh Bambang Mega Wahyu disebut sebagai definisi Kramik.

“Sebelum praktik langsung,siswa kita beri pemahaman dulu tetang definisi Kramik, agar hal itu bisa dikembangkan oleh siswa dikemudian hari,” terang Bambang Megawahyu didepan para siswa SMP Mutiara Islami Cikarang.

Ada enam langkah,yang harus dipersiapkan siswa sebelum praktik membentuk tanah liat, pertama siapkan bahan tanah liat, lalu pergunakan alat putar, bisa dengan tangan atau kaki. “Alat ini disebut “Pergot” dalam pembentukan dua sistem yang dipakai dengan sistem pijat,atau dengan sistem cetak. Jika sudah terbentuk barang jadi sesuai yang direncanakan, tanah liat kemudian masuk proses pengeringan, sebelum akhirnya dibakar,” tutur Bambang Mega Wahyu.

BACA JUGA:  UMK Karawang Dipastikan Tetap Tertinggi

Ada sisi menarik,dari para instruktur yang ditugaskan di Litbang Kramik Plered,semuanya hampir sudah menguasai proses pembuatan kramik secara tradisional. Sehingga meski jumlah kunjungan siswa ada ratusan mereka dengan seksama, mengajari siswa yang rata rata baru secara serius berakrab ria dengan tanah liat.

Suasana,gembira bahkan kerap terdengar suara tawa canda ria para siswa,yang terlihat geli,memegang tanah liat,menjadi moment menarik, yang membuat para siswa merasa ingin mencoba dan mencoba lagi.

Terelebih,saat pijatan tangan mungil atas tanah liat yang berputar diatas papan pergot, mulai membentuk barang seperti pas bunga,asbak,atau kendi.

“Wah dasyat seperti ajaib, masa sih tangan aku bisa bikin keramik kaya gini,” terang Rahma siswi SMP Mutiara Islami setengah tak percaya,saat jari jari mungilnya mampu membentuk kendi kecil.(dyt/dan)