Tabur Serbuk Kapur, Cegah Benih Padi Menguning

SIAP MENABUR: Petani menyiapkan serbuk kapur, untuk ditabur di areal sawah mereka sebelum ditandur. Cara ini dinilai efektif untuk mencegah hama beureum, yang menyebabkan membusuknya akar benih padi sebelum akhirnya mati. DAYAT ISKANDAR/PASUNDAN EKSPRES

PURWAKARTA-Guna mencegah hama beureum (Merah red), pasca tandur para petani di blok sawah Kampung Cipeucang Desa Gandasoli Kecamatan Plered, menabur serbuk kapur halus di areal sawah yang hendak ditanaminya. Hama beureum diyakini bisa menyebabkan benih padi menguning hingga mati.

Hal tersebut, merujuk kepada intruksi ketua kelompok tani yang menurut penuturan mereka, karena sawah diblok itu kekurangan zat kapur, sehingga benih padi yang sesudah ditandur kerap menguning. “Cara ini dilakukan untuk mencegah hama beureum. Tanda-tandanya, akar padi akan membusuk pasca benih ditandur yang mengakibarkan benih padi menguning, sebelum akhirnya mati muda,” terang Udi petani penggarap warga setempat.

Pembagian serbuk kapur, Udi mengakatakn, dibagi-bagikan ketua kelompok taninya, atas arahan penyuluh pertanian di kawasan sawah mereka, yang didapat secara Cuma-cuma alias gratis. “Satu karung ini isinya 50 kg serbuk kapur. Saya mendapat 5 karung 2,5 kwintal untuk areal 2.000 m2. Ini semua didapat secara gratis,dari ketua kelompok tani di sini,” kata Udi.

Menaburkan serbuk kapur itu, hasil panen yang didapat meningkat dan jumlah benih padi yang mati muda pasca tandur, bisa ditekan hingga 95 persen. “Kalau benih menguning pasca tandur, kerap ada dan itu tergantung ketersediaan pasokan air. Di sini pasokan air, dibagi dan disalurkan dari irigasi dengan cara bergilir dengan blok sawah tetangga garapan kita,” ungkapnya.

Petani rela meski harus mengeluarkan tenaga ekstra menabur serbuk kapur ini dan kerap panas di tangan akibat terkena air. “Kita tetap ikuti arahan ketua kelompok tani, karena terasa manfaatnya,” tukas Udi.

Di blok Pesawahan Kampung Cipeucang dan Blok Pesawahan Kampung Ciserang, meski hanya dipisah jalan desa waktu panen di kedua blok sawah bertetangga itu selalu tak seragam. Penyebabnya karena ada pengaturan pasokan air irigasi yang di atur pihak pengairan. “Kalau musim hujan, pergiliran suplai airnya tak begitu terasa, karena dibantu air hujan. Tapi di musim kemarau, perbedaan waktu panen bisa sangat mencolok. Bisa dua minggu atau kadang sebulan perbedaan waktu tanam dan panenya. Tapi umumnya, dalam setahun kita bisa panen sama-sama tiga kali, meski waktu tak seragam antar dua blok sawah bertetangga ini,” jelasnya.

BACA JUGA:  Produksi Padi di Patokbeusi Meningkat Tajam

Penyebab lainnya, karena kedua sawah bertetangga ini, secara topografi tak sama. Satu berada ditanah lebih rendah dan satu blok lagi berada di blok sawah yang lebih tinggi. Hal itulah menyebabkan air sulit naik secara merata ke posisi sawah yang lokasinya berada lebih tinggi. “Ini di daerah bebukitan beda dengan pantura,” tandasnya.(dyt/vry)