TNI dan Sekolah Sudah, Desa Kapan?

SOSIALISASI. Jajaran Sat Res Narkoba Polres Purwakarta saat menggelar sosialisasi pencegahan bahaya narkoba bagi prajurit Yonarmed 9/Pasopati Kostrad. ADAM SUMARTO/PASUNDAN EKSPRES

PURWAKARTA-Semangat untuk menggelar sosialisasi pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba terus ditunjukkan jajaran Polres Purwakarta.

“Walau di tengah pandemi COVID-19, sosialisasi tak boleh terhenti. Tentunya dengan tetap menomorsatukan protokol kesehatan,” ujar Kapolres Purwakarta AKBP Indra Setiawan melalui Kasat Res Narkoba AKP Heri Nurcahyo saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (16/7).

Heri pun mengapresiasi jajaran TNI, yakni Kodim 0619/Purwakarta, Menarmed 2/1 Kostrad, dan Yonarmed 9/Pasopati Kostrad yang telah menggelar sosialisasi bahaya narkoba bagi para prajuritnya.

“Meski hingga saat ini tak ada satu pun personel TNI di Purwakarta yang terlibat penyalahgunaan narkoba, namun mereka memahami pentingnya pencegahan melalui sosialisasi narkoba. Ini patut diapresiasi dan ditiru,” kata Heri.

Pun halnya dengan para panitia Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di berbagai sekolah di Purwakarta. Heri mengacungkan jempolnya karena menyisipkan sosialisasi P4GN menjadi salah satu materi MPLS.

“MPLS ini digelar virtual, pun halnya dengan sosialisasi bahaya narkoba yang disampaikan secara virtual juga. Para siswa baru menyimak sosialisasi secara daring di rumahnya. Meski virtual, sosialisasi tetap berjalan interaktif,” ujar Heri.

Sayangnya semangat untuk menggelar sosialisasi bahaya narkoba belum benar-benar tampak di kalangan pemerintahan desa. Betapa tidak, dari 183 desa dan sembilan kelurahan, baru 13 desa dan satu kelurahan saja yang menggelar sosialisasi pencegahan narkoba.

“Padahal, semangat kami untuk menggelar sosialisasi di mana pun sama saja. Baik itu dengan kawan-kawan TNI, sekolah atau desa sama saja semangatnya. Karena kami sangat menyadari pentingnya sosialisasi untuk pencegahan,” ucapnya.

Sosialisasi Narkoba Tak Pernah Kendor Meski di Tengah Pandemi

Dirinya khawatir, kasus yang terjadi di Cianjur misalnya, yakni seorang bendahara desa jadi bandar sabu jangan sampai terjadi di Purwakarta. “Belum lagi penemuan 1,5 hektare lahan ganja di Kabupaten Bandung Barat. Ini salah satunya terjadi karena apatisnya pemerintah desa setempat,” kata Heri.

Dirinya pun tak bosan-bosannya mengajak seluruh pemerintah desa untuk bersama-sama peka dan mencegah penyalahgunaan serta peredaran gelap narkoba melalui sosialisasi.

“Ayo, jangan sungkan atau segan mengontak kami. Cukup sediakan tempat dan pesertanya saja. Kami siap hadir melakukan sosialisasi. Dan saya tegaskan, setiap sosialisasi bahaya narkoba tidak diminta atau dipungut biaya apapun,” ucapnya.

Lebih lanjut Heri menyebutkan, bahaya narkoba menjadi tanggung jawab bersama. Terlebih saat ini para pengedar sudah menyasar seluruh lapisan masyarakat, bahkan hingga ke daerah-daerah.

“Data menunjukkan, dari 17 kecamatan di Purwakarta, 12 kecamatan masuk zona merah, dua kecamatan berstatus zona kuning, dan tiga kecamatan berkategori hijau penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Ini sangat memprihatikan dan kita semua tidak boleh tinggal diam,” ujarnya.(add/ded)