2.260 Warga Subang Menderita HIV/AIDS

SUBANG-Sebanyak 2.260 orang warga Kabupaten Subang menderita penyakit HIV/AIDS. Hal itu berdasarkan data dari Dinas Kesehatan hingga Oktober 2020.

Kepala Bidang dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Subang, dr Maxi mengungkapkan dengan jumlah pendeita tersebut, Kabupaten Subang menduduki posisi ke 6 tertinggi se-Jawa Barat.

Adapun terkait sebaran HIV/AIDS di Subang, dr Maxi menjawab paling tinggi ada di Kecamatan Subang, dan rata-rata akibat sex bebas. “Kita kesulitan menditeksi sebab area Subang Kota ini tidak terpusat, mereka sendiri-sendiri menggunakan aplikasi smartphone, kalau area Pantura kita bisa cek, karena mereka terpusat,” jelasnya.

Dia mengungkapkan bagaimana Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Subang sempat kesulitan mendapatkan ARV, lantaran sempat terjadinya lockdown beberapa waktu lalu. “Ya betul, sempat kesulitan ODHA mendapati ARV, terutama pada musim lockdown. Karena kekurangan bahan baku, dan suplai dari luar negeri, sebab semua penerbangan ka stop saat itu, tapi sekarang sudah mulai normal,” ungkapnya.

Sampai saat ini, kata dia, bahan baku ARV masih bergantung pada bahan baku yang ada di luar negeri, sehingga produksi sempat tersendat.

Tertinggi ke Enam di Jawa Barat

Soal berikutnya ada pada aplikasi SIHA, atau Sistem Informasi HIV/AIDS. “Kita kan catat pasien baru dan minta obat pake aplikasi itu. Nah kita catat di aplikasi misal 20, yang datang 30, jadi itu yang setidaknya bisa menyendat ketersediaan ARV itu,” tambahnya.

Sementara salah satu sumber Pasundan Ekspres, yang merupakan ODHA sebut saja Wina mengaku jika untuk lingkup Subang, masih saja ada stigma dari masyarakat. Padahal stigma merupakan hal yang paling berbahaya dari pada virus HIV/AIDS nya itu sendiri. “Bagaimana kami bangkit dari keterpurukan karena tidak percaya diri, salah satunya dengan pengakuan sosial di tengah masyarakat. Nah saat ini belum ada sih dari beberapa masyarakat masih ada stigma,” ungkapnya.

Dia berharap dalam momentum hari HIV/AIDS ini stigma di masyarakat khususnya untuk ODHA bisa hilang sama sekali. Sehingga ODHA punya kedudukan yang sama di tengah masyarakat. Ia juga berharap pada pemilik kebijakan agar edukasi dan pendidikan terkait HIV/AIDS bagaimana penyebaran juga penularannya bisa terus diinformasikan pada masyarakat. “Salah satunya menurut saya yang bisa menekan stigma dari masyarakat itu ya dengan edukasi, maka saya berharap stekholder terkait bisa terus berikan informasi soal HIV/AIDS,” pungkasnya.(idr/sep)