Acuhkan Bantuan Presiden, Mas Kimin Pilih Berdagang

Bantuan Presiden
TETAP IKHTIAR: Mas Kimin pedagang baso keliling lebih memilih berjualan mencari uang demi sesuap nasi. INDRAWAN SETIADI/PASUNDAN EKSPRES

Tak Punya Waktu Urus Persyaratan

SUBANG-Kucuran bantuan untuk pelau UMKM dari Presiden RI rupanya direspon biasa saja oleh beberapa pelaku usaha di Subang. Meski beberapa masyarakat antusias memenuhi persyaratan untuk mendapat bantuan tersebut.

Lain halnya dengan beberapa pelaku usaha di Subang ini. Mas Kimin misalnya, seorang Pedagang Baso keliling di Subang.

Dia mengaku berjualan baso sejak tahun 1986 di Subang, awalnya menggunakan tanggungan hingga sekarang menggunakan roda. Selama menjadi seorang pedagang baso keliling di Subang, Mas Kimin mengaku baru sekali mendapat bantuan, yakni bantuan tabung Gas 3 Kg.

Baca Juga: Staf Presiden Antarkan Bantuan kepada Warga Kurang Mampu di Cipeundeuy

“Saya kalau sekarang sudah malas ngurus-ngurusnya mas, sejak tahun 86 ada bantuan ini bantuan itu, ngajuin gak pernah dapet. Kesini-kesini akhirnya sudah malas ah, fokus saja dagang sekarang mah, mengharapkan bantuan mah ah, kapan usahanya,” ungkap Mas Kimin saat ditemui Pasundan Ekspres di Kantor Kecamatan Subang, Kamis (27/8).

Mas Kimin mengaku membuat dan mengolah serta mendagangkan basonya sendiri. Datang dari Solo mengadu nasib di Subang dengan berjualan baso, istri dan anak-anaknya juga dia boyong datang ke Subang.

Mas Kimin menempati kontrakan di Buta Rengat, Subang. Kadang dia malah mengaku suka ironis sendiri, ketika berkeliling jualan baso, dalam dua hari ini Mas Kimin memperhatikan banyak masyarkat mendadak bikin SKU (Surat Keterangan Usaha) untuk memenuhi syarat mendapati bantuan.

Sudah tidak berharap

“Kalau orang-orang antusias ngejar bantuan sampe grobak saya difotoin, katanya untuk persyaratan. Kalau saya ah, sudah malas mas padahal kalau dipikir-pikir saya yang betul-betul usaha ya, mana saya juga sama kena dampak dari covid. Tapi ah ikhtiar saja sendiri biar gak ada beban gitu mas,” tambahnya sambil sedikit tertawa.

BACA JUGA:  Tindak Pelanggar Selama PSBB, Polres Siapkan Blanko Peringatan

Menurutnya, dampak pandemi Covid-19 sempat membuatnya ingin pulang ke Solo. Sebab berjualan terlebih berkeliling seperti dirinya sempat dirasakan sulit, dan nyaris tidak memiliki penghasilan saat itu, terutama saat diberlakukannya PSBB.

Berbeda dengan Wandi, yang juga sebagai pedagang keliling. Meski sama-sama tidak antusias menyambut bantuan dari presiden, Wandi yang berjualan siomay memiliki alasannya tersendiri.

Dia mengaku mengetahui informasinya terlambat, belum lagi untuk mengurus beberapa persyaratan yang memerlukan waktu khusus. “Saya taunya telat, RT di saya ngasih tau malam, katanya besok siang terakhir. Ya saya mana sempet urus-urus persyaratanya, harus ke kelurahan dan kecamatan mending saya keliling dagang,” ungkapnya.

Sebagai pedagang keliling yang penghasilannya harian, Wandi mengaku lebih memilih jalan berdagang. Lantaran jika sehari saja dia tidak jalan (dagang), anak dan istrinya tidak bisa makan. “Maka saya memilih untuk tetap berdagang ketimbang urus syarat untuk memenuhi bantuan prresiden itu, berdagang lebih konkret,” ungkapnya.

Seperti diketahui, Presiden RI, joko Widodo meluncurkan program bantuan yang disebut Banpres Program Produktif untuk Usaha Mikro (BPUM) dengan besaran Rp 2,4 juta untuk setiap usaha mikro. Bantuan ini merupakan skema dari Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang diberikan pada pelaku usaha yang belum memiliki kredit, namun memiliki usaha.(idr/sep)