Alat Masak Semakin Modern, Seeng Tanjungsiang Tetap Banyak Diminati

BANYAK PESANAN: Para pengrajin seen di Kampung Tanjung Tanjungsiang, mengerjakan pesanan yang terkadang membuat para pengrajin kewalahan. INDRAWAN SETIADI /PASUNDAN EKSPRES

Banyak Pesanan Bikin Produsen Kewalahan

Jika menganggap bahwa alat memasak seeng atau dandang sudah ditinggalkan dan musnah, maka anggapan tersebut sudah dipastikan keliru. Sebabnya adalah ternyata masih ada produsen seeng di Tanjungsiang-Subang.

Salah satu produsen seeng asal Kampung Tanjung, Tanjungsiang-Subang, Yayan Suryana mengungkapkan, jika di kampungnya masih banyak para pengrajin seeng yang hasil produksinya dipasarkan bahkan hingga ke luar daerah Subang.

“Kalau beranggapan bahwa seeng ini sudah tidak diminati karena alat masak modern sepertinya itu keliru. Saya tidak punya persoalan dengan pemasaran. Permintaan konsumen pada seeng ini justru selalu ada saja, bahkan malah selalu sering kekurangan,” jelas pria yang mempunyai merk seeng bernama Sabilulungan ini.

Yayan mulai menggeluti dunia usaha pembuatan seeng ketika tahun 2000, di awali dengan menjadi seorang kuli pembuat seeng. Barulah 12 tahun kemudian, tepatnya tahun 2012 dia bisa mendirikan usahanya sendiri.

“Kalau saya mulai dari kuli dulu tahun 2000, sempat juga di pemasaran, mulai merintis kecil-kecilan sejak tahun 2012, alhamdulilah sekarang sudah punya 5 orang pekerja,” jelasnya lagi.

Dalam strategi pemasarannya, Yayan mempunyai dua cara, pertama dia menyebutnya cara konservatif yaitu dengan keliling ke kampung-kampung. Yayan mengaku, bahkan punya pelanggan dari Cianjur, Bogor, Indramayu, Karawang, Purwakarta, dan Banten. Kemudian cara yang ke dua yaitu pemasaran secara online.

“Di media sosial, awalnya tidak ada yang repon. Lama-lama ada juga, Alhamdulilah kini sudah banyak yang tahu, bahkan saya mampu melebarkan daerah jangkauan hingga Surabaya dan Aceh,” tambahnya.

Daerah Tanjungsiang memang sejak lama dikenal sebagai sentra pembuatan seeng. Konon banyaknya pengrajin seeng di Tanjungsiang terkait dengan peristiwa Bandung Lautan Api 23 Maret 1946. Saat itu terjadi eksodus besar-besaran warga Bandung keluar daerah termasuk ke Subang.

Warga yang mengungsi ke daerah Subang diantaranya berasal dari daerah Cileunyi. Mereka mengungsi ke daerah Tanjungsiang. Mata pencaharian sebagian warga yang mengungsi ke daerah Tanjungsiang tersebut adalah pengrajin seeng. Usai perang kemerdekaan tak semua warga pengungsi tersebut pulang ke daerahnya, sebagian malah menetap di Tanjungsiang dan meneruskan kehidupan di daerah baru tersebut dengan mata pencaharian membuat seeng.

Seeng yang dibuat oleh warga Tanjungsiang mempunyai ciri khas yang berbeda dengan seeng lainnya. Motif batik menjadi andalan bagi para pengrajin. Kebanyakan para pengrajin membuat seeng dari bahan alumunium, hanya beberapa yang membuat seeng dari bahan kuningan. Itupun dibuat untuk acara seserahan pernikahan saja.

Salah satu pengrajin seeng yang lain Wawan mengatakan, ongkos kirim ke luar pulau Jawa, Pak Wawan mematok harga 1,5 juta per 500 buah seeng. Tak hanya Pak Wawan, masih banyak pengrajin lainnya yang menggeluti usaha semacam ini. Hal ini tentu saja menumbuhkan tingkat perekonomian di Desa Tanjungsiang.

“Ya Kalu harga macam-macam tergantung kemana barang di kirim, kadang ada juga yang ngambil ke sini, kalau ke luar jawa ya kisaran satu juta setengah hingga dua juta untuk per limaratus,” pungkasnya.(idr/vry)