Beasiswa Pokir Rawan Manipulasi, Lurah Wanareja Belum Tahu Mekanisme

SUBANG-Dana beasiswa untuk mahasiswa untuk Fakultas Agribisnis dan Rekayasa Pertanian Universitas Subang (Unsub) dipertanyakan transparansi anggarannya. Pasalnya, model penganggarannya sangat rawan dimanipulasi. Hal tersebut diungkapkan tokoh masyarakat Subang, Budi Setiadi.

Menurutnya, bantuan dana untuk beasiswa mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Subang, harus melalui pengelolaan keuangan daerah. Itu pun harus sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Setiap penganggaran juga harus jelas tujuannya atau hasil yang didapatkannya. “Harus jelas mekanismenya, melalui pengelolaan keuangan daerah dan juga harus sesuai dengan kaidah-kaidah,” ujarnya.

Budi mempertanyakan beasiswa untuk mahasiswa mengapa menjadi bantuan desa, bagaimana kriteria calon penerimanya dan siapakah yang melakukan seleksinya. Terlebih lagi, kabarnya anggarannya dititipkan di keluarahan. “Ini semakin tidak menjadi jelas bantuan tersebut. Siapa penerimanya? Seleksinya seperti apa? Kenapa anggaran tersebut dititipkan di kelurahan? Jangan buat publik bingung. Jika ini benar, harus ada sosialiasi dan pemberitahuan, seperti ke media massa,” ungkapnya.

Mengenai anggaran dana beasiswa untuk mahasiswa, Budi menuturkan, kembali kepada awal dicairkannya kepada siapa dan tujuannya untuk apa. Harus ada kejelasan, apakah subsidi untuk Fakultas Pertanian Unsub atau untuk membantu mahasiswa yang kesulitan biaya dalam menempuh pendidikannya. Pertanyaan yang paling penting jika dana tersebut seyogianya untuk membantu mahasiswa, tetapi kenapa hanya Fakultas Pertanian saja.

“Ini harus jelas maksud dan tujuannya, kenapa hanya Fakultas Pertanian saja yang dapat,” kata Budi yang juga mantan birokrat di Pemkab Subang dan Pemprov Jabar.

Budi menduga model pengangaran dana yang seperti itu sangat rawan dimanipulasi, karena tidak adanya kejelasan proses dan tujuannya. Dana tersebut merupakan dana publik dan bukan dana milik para pejabat politik. Jika melihat dengan seksama juga berkenaan dengan transparansi anggaran, yang sudah dijanjikan dengan pernyataan bermaterai oleh pimpinan daerah beberapa waktu yang lalu.

BACA JUGA:  Kampusku yang Hijau

Ternyata transparansi anggaran tidak terlihat, dikarenakan hanya bersifat launching dan seremonial semata. “Belum ada gebrakan yang secara substantif berusaha menyelesaikan masalah di Kabupaten Subang. Transparansi anggaran gimana kabarnya?” ujar Budi yang pernah mencalonkan diri menjadi wakil bupati bersama Dedi J.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Subang Drs. H. Nana Mulyana, M.Si mengatakan, dana beasiswa untuk 30 mahasiswa Fakultas Pertanian Unsub bersumber dari dana bantuan desa (Bandes), berasal dari pokok pikiran (Pokir) DPRD Subang. Dana bandes beasiswa tersebut sampai saat ini tidak bisa dilakukan pencairan, karena SK Bupati Subang belum turun atau disahkan.

“Beasiswa bersumber dari Bandes sebesar Rp600 juta belom bisa dicairkan, karena SK Bupati nya belum turun. Jika sudah turun SK dan disahkan, maka anggaran beasiswa tersebut langsung diterima oleh Kelurahan Wanareja. Kalau dari kita hanya sebatas pengajuan saja,” ujarnya.

Sedangkan Lurah Wanareja Imas Maslamah kepada Pasundan Ekspres, mengaku hingga saat ini belum menerima informasi terkait mekanisme penyaluran beasiswa tersebut. “Saya belum menerima informasinya. Jadi belum bisa menjelaskan apapun, nanti saya kordinasi dulu dengan Pa Camat dan pihak Unsub, jika sudah ada informasi saya kabari,” jelasnya.

Sebelumnya Fakultas Agribisnis dan Rekayasa Pertanian (Fakultas Pertanian) Universitas Subang,melalui Dekan Fakultas Agribisnis dan Rekayasa Pertanian Universitas Subang, Dr. H. Kamal Ma’ruf SE. M.Si menyampaikan bahwa tahun akademik 2019/2020 anggaran beasiswa Pemda berada di Dispemdes yang nanti dicairkan melalui Kelurahan Wanareja.

Mengenai mengapa pencairan harus melalui Kelurahan Wanareja, Dr Kamal menyebut, karena Universitas Subang berada di kelurahan tersebut. “Belum cairnya dana beasiswa dari informasi yang saya terima, dikarenakan Pemda saat ini tengah fokus untuk menangani Covid-19. Namun saya yakin Pemda komitmen untuk mencairkan beasiswa di tahun ini,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Dilarang Gelar Kegiatan Workshop, HMI Laporkan Unsika

Beasiswa Pemda juga dinilai sebagai Salah satu faktor penambahan jumlah Mahasiswa di Fakultas Agribisnis dan Rekayasa Pertanian Universitas Subang. “Meskipun beasiswa tidak mengcover seluruh mahasiswa, namun setidaknya dengan adanya beasiswa tersebut, orang tertarik masuk ke pertanian,” kata Dr Kamal.(ygo/idr/vry)