Buruh Tuntut Kenaikan UMK 20 Persen, Disnaker: Bantah Tak Berpihak

SUBANG-Hari sumpah pemuda yang jatuh setiap 28 Oktober, diwarnai dengan aksi unjuk rasa para buruh dari aliansi buruh Subang. Ratusan buruh yang tergabung dalam Aliansi Buruh Subang (ABS) masih membawa tuntutan yang sama. Yakni kenaikan upah minimum, yang menurut mereka merupakan dampak dari disahkan Undang-undang Cipta Kerja.

Aksi tersebut, merupakan aksi lanjutan pada 30 September lalu. Lantaran menurut para buruhm, tuntutan mereka pada 30 September lalu tidak kunjung ada keputusan. “Tuntutan kita jelas, batalkan Omnibus Law UU Cipatakerja, karena gara-gara itulah yang menyebabkan dampak yang merugikan untuk kami para buruh. Upah kami gak naik. Di Subang ada 28 perusahaan yang sampai hari ini belum menaikan upahnya dan kita harus diam?” ungkap Esti Setyowati, mewakili Aliansi Buruh Perempuan yang tergabung dalam ABS.

Dia juga menegaskan, selama tuntutan kenaikan upah belum juga bisa terealisasi. Maka ABS akan terus melakukan unjuk rasa dengan peserta aksi masa yang jauh lebih banyak.

Dia juga menyebut kepastian kenaikan upah tahun 2021, bagi perusahan yang memberikan upah di bawah upah minimum bisa ditempuh dengan adanya kebijakan bupati.

“Jangan diam saja Bupati Subang. Kamu harus mengeluarkan kebijakan tentang kewajiban pengusaha untuk berunding sesuai Undang-undang Cipta Kerja Jo PP No 36, tentang kenaikan upah diatas upah minimum,” katanya.