Cegah Longsor Sampah, TPA Panembong terapkan Sistem Terasering

YUGO EROSPRI/PASUNDAN EKSPRES OVERLOAD: Warga setempat memanfaatkan pengolahan sampah di TPA Panembong, yang kondisinya sudah overload.

SUBANG-Untuk mencegah longsor sampah ke aliran sungai Cileuleuy dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Panembong, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Subang membuat sistem terasering. Pasalnya, sampah di TPA tersebut sudah pada kapasitas overload.

Kepala DLHK Subang Rona Mairansyah menjelaskan pembuatan sistem terasering ini dalam rangka upaya penataan sampah di TPA Panembong. Selain itu, juga menata drainase di sekitar lokasi, sehingga air hujan tidak masuk secara langsung ke tumpukan sampah yang dapat menimbulkan longsor. “Ini yang dikhawatirkan longsor sampah, bisa dibayangkan, maka dari itu kita buat sistem terasering,” katanya.

Dia menyebut ada 200 ton sampah yang berasal dari Pasar, tempat pelayanan publik, tempat wisata, dan jalan-jalan umum, yang diangkut ke TPA Panembong pada setiap harinya. Apalagi di musim hujan seperrti saat ini dapat menyebabkan longsor sampah ke aliran sungai Cileleuy. “Jika ini terus terjadi pasti dikeluhkan masyarakat. Karena ini sering terjadi selama bertahun-tahun ketika kondisi TPA sudah overload sampah turun ke sungai karena hujan,” ungkapnya.

Kapasitas Overload Cemari Sungai

Adapun armada pengangkut sampah yang dimiliki DLHK Subang saat ini ada sebanyak 45 unit, dengan kondisi 11 unit harus dilelang, dan 3 unit yang harus dilelang. “Hanya ada 31 unit armada pengangkut sampah berupa truk, colt, cator dengan kondisi 45 persen sudah tua dan berusia lebih dari 15 tahun. Semuanya perlu perawatan lebih ekstra karena sudah sering rusak,” ujarnya.

Lebih lanjut Rona menjelaskan progres relokasi TPA ke Banggalamulya Kecamatan Kalijati, sudah masuk dalam tahap penyusunan Detail Engineering Design (DED). “Prosesnya masih terus berjalan, intinya masih berprogres, berharap saja bisa cepat dikerjakan,” jelasnya.
Salah seorang Pengendara Subang Yadi.S (43) mengaku kerap mencium bau tak sedap saat melintasi jalur Parung menuju Subang ataupun sebaliknya. “Sudah gak tahan sama baunya, makanya kalo melintasi jalan tersebut saya selau pakai masker,” ujarnya.

Seperti diketahui, TPA Panembong sudah berdiri sejak tahun 1999 silam, hingga saat ini kondisinya sudah overload dan sampah banyak yang berjatuhan ke aliran sungai hingga menimbulkan bau tengik pada air sungai tersebut.

Meski sempat dibuatkan walking track di lokasi, namun ternyata tidak efektif karena kondisi sampah yang sudah sangat overload sehingga bau menyengat tidak bisa dihindari warga.(ygo/sep)