Cuaca Ekstrem Pengaruhi Harga Rambutan

Dira mengaku pasrah dengan anjloknya harga buah rambutan yang menjadi penghasilan untuk kehidupan keluarganya.

KALIJATI-Musim panen raya buah rambutan telah tiba, harganya juga sudah mulai jatuh, dari semula harga satu gedeng 15.000 rupiah, kini hanya 5.000-6.000 rupiah saja. Hal tersebut dikemukakan oleh salah satu pedagang asal Kalijati, Dira (46).
Menurutnya, kendati siklus tahunan penjualan buah rambutan selalu anjlok harganya ketika panen raya. Bahkan, untuk tahun ini jauh lebih sulit. “Tahun ini agak sulit dibanding tahun sebelumnya. Untuk menjual rambutan, saya harus sampai dagang ke pasar induk di Caringin,” kata Dira.

Anjloknya harga rambutan hari ini, kata dia, bukan hanya persoalan ketersediaan buah yang banyak. Namun juga faktor cuaca ekstrim, lebih dari tahun-tahun sebelumnya, ditambah lagi bandar juga sudah jarang datang ke Subang. “Kalau kita tidak lincah, maka ya sulit untuk jualnya sekarang itu,” tambahnya.

Dira mengaku pasrah dengan anjloknya harga buah rambutan yang menjadi penghasilan untuk kehidupan keluarganya. Selain itu, harga akan semakin anjlok jika buah dukuh sudah musim.

Petani rambutan asal Purwadadi, Ade Namon (54) mengungkapkan bahwa panen rambutan tahun ini tidak bisa balik modal. “Yah begitu lah bisnis memang kadang diatas kadang dibawah. Tapi tahun ini hasil panen habis untuk membayar biaya mengkeut (ikat/pengemasan),” ujar Ade.

Ia pun menambahkan bahwa biasanya rambutan terjual dengan harga 10.000 rupiah, untuk satu ikat bersaing dengan harga dukuh Palembang, tahun ini hanya 4.000 rupiah.
Ade dan para petani rambutan lainnya berharap agar pemerintah mampu memberikan peluang pasar yang tinggi untuk petani buah-buahan, khususnya buah rambutan.
Selain itu, subsidi pupuk dan kebutuan tani lainnya pun dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas buah agar mampu bersaing dengan pasar yang lebih luas.(idr/sep)

BACA JUGA:  Mengadu Nasib di Pasar Rambutan