Gilir Giring Hingga Pompanisasi Tanggulangi Kekeringan

POMPANISASI: Pemerintah Desa Bobos mengawal giliran air serta pompanisasi bersama desa lain yang menyedot dari Sungai Cipunagara. YOGI MIFTAHUL FAHMI/PASUNDAN EKSPRES

SUBANG-Meski hujan sempat turun beberapa hari lalu di Subang, namun ternyata belum menjadi jaminan untuk beberapa sawah di bagian Utara Subang mendapati air yang cukup untuk musim tanam yang akan mereka hadapi. Potensi bencana kekeringan masih terus diantisipasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Subang.

Seperti pada Minggu (27/9) kemarin, beberapa staf PJT, unsur pertani, dan Tim BPBD Subang turun langsung untuk memastikan aliran air ke pesawahan di wilayah Subang Utara. Hal tersebut, disampaikan oleh Kepala BPBD Kabupaten Subang, H. Hidayat.

“Beberapa staf ada yang menginap, untuk menggiring air di wilayah Pamanukan Sebrang, Karang Mulya, Bobos, dan sekitarnya. Kami sudah berhari-hari dengan Kades dan PJT untuk memastikan penambahan debit air dari asmen Patrol dan Binong,” jelasnya.

Selain gilir giring, H. Hidayat juga mengungkapkan pola penambahan debit air dilakukan juga dengan pompanisasi, baik menggunakan dompleng, maupun mobil sedot. “Dengan dompleng sebanyak 4 unit dan mobil sedot dari BBWS, Tim masih berada di lapangan,” tambahnya.

Terkait kondisi terkini, hingga pukul 12.24 WIB pada Minggu (27/9) debit air di sekitar wilayah Blanakan sudah bertambah. wilayah Pangerangan, Binong, Sukasari, Ciasem, Blanakan debit air PJT terus ditambah. “Perlu pengawalan dari Kecamatan, Desa, dan Dinas terkait, supaya aman lancar pembagian airnya,” tambahnya lagi.

Sebelumnya, Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Subang, Nenden Setiawati, sekitar 2.884 hektar lahan pesawahan di 10 kecamatan di wilayah pantai utara, terancam kekeringan. Luas wilayah yang terancaman kekeringan paling besar menurutnya ada di Kecamatan Blanakan, jumlahnya mencapai 752 hektar. Kemudian Kecamatan Pusakajaya seluas 505 hektare, dan Pabuaran seluas 400 hektare.

“Dari 10 kecamatan di wilayah utara Kabupaten Subang yang terancam kekeringan, kemungkinan yang mengalami puso, tambah Nenden, terjadi di Kecamatan Pabuaran. Sekitar 17 hektar puso,” jelas Nenden.

Dari total keseluruhan luas tanam yang ada di Kabupaten Subang, yakni seluas 61.827 hektare, tanaman padi yang terancam kekeringan seluas 3.550 hektare. Penyebab terancamnya tanaman padi di wilayah Subang, salah satu diantaranya debit air tidak stabil, cuaca panas ikut mempercepat laju evaporasi air irigasi yang ada di sawah. Bahkan ada juga yang diakibatkan oleh pola tanam serempak, seperti di Kecamatan Compreng.

“Selain karena faktor alam, ada beberapa solusi yang dilakukan, diantaranya normalisasi saluran, kemudian tambak limpas, sistem gilir giring yang harus dipatuhi dan jadwal tanam serta golongan air harus dipatuhi,” tambah Nenden.

Solusi yang dilaksanakan di masyarakat saat ini menurutnya, yang pertama, Gilir giring yang dilaksanakan di Kecamatan Ciater dan Kecamatan Jalancagak, sedangkan untuk kecamatan lainnya, dilakukan pompanisasi.(idr/vry)