Granat Sempat Dijual Rp20.000 Ke Tukang Rongsok

pemuan granat di subang
INDRAWAN SETIADI/PASUNDAN EKSPRES EVAKUASI: Lokasi penemuan Bom Granat di kediaman Asep Rudianto RT02 RW 04 Kasomalang Kulon, yang diamankan Tim Penjinak Bom Polda Jabar.

SUBANG-Warga Kasomalang dibuat geger, dengan penemuan benda semacam granat oleh seorang pekerja bangunan bernama Dede, Senin (15/2). Dede saat itu, sedang menggali septic tank di rumah Asep Rudianto.

Awalnya Dede tidak mengetahu jika benda itu adalah bom, dirinya mengaku menemukan benda tersebut di kedalam sekitar 1-2 meter. “Saya jual ke tukang rongsok, Rp20.000,” ungkap Dede.

Tetangga sekitar rumah Asep yabg mengetahui benda tersebut adalah bom, yakni Ikhsan (24) membeli lagi granat yang telah dijual ke tukang rongsok yang tidak diketahui namanya itu dengan harga Rp25 ribu rupiah. “Saya lihat, ko mirip granat. Saya beli lagi aja dari tukang rongsok dan menyerahkan ke Babinsa AD,” ungkap Ikhsan.

Tak lama, Babinsa berkoordinasi dengan Polsek Jalancagak. Melalui Kapolsek Jalancagak Kompol Supratman menjelaskan pada Pasundan Ekspres, jika dirinya langsung berkoordinasi dengan Tim Penjinak Bom Polda Jabar, guna memastikan granat tersebut masih aktif atau tidak. “Secara teknis karena saya bukan ahlinya, saya tidak bisa memastikan bom tersebut masih aktif atau tidak. Maka saya langsung koordinasi dengan tim penjinak bom Polda Jabar,” ungkapnya.

Tim yang tiba, langsung mengamankan bom, saat ditanyakan mengenai asal usul bom tersebut, Supratman tidak mau berspekulasi. Sebab, sepengetahuannya ini adalah kasus penemuan bom pertama saat dirinya menjabat sebagai Kapolsek di Jalancagak. “Saya belum bisa memastikan apakah ada yang lain lagi atau tidak, sementara jumlah total saat ini 15 buah,” tambahnya.

Pensiunan TNI AD, yang juga merupakan mantan Kepala Desa pertama Desa Kasomalang Kulon, Toto (90) membeberkan dua kemungkinan asal usul bom tersebut pada Pasundan Ekspres. Kemungkinan pertama menurutnya sejak zaman Belanda sekitar tahun 1949, dan sekitar tahun 1954 ketika penumpasan gerombolan DI/TII. “Bisa ada dua kemungkinan, zaman Belanda mungkin, karena di sekitar situ dulu ada markas Belanda, yang kemudian dijadikan pos penjagaan ketika pemberontakan DI/TII,” katanya.